Fiction/Fiksi

please, don’t go.

Bagaimana?

Apakah semuanya berjalan dengan lancar?

Apakah semuanya berjalan sesuai dengan rencana?

Kau menggeleng. Tidak, katamu. Rencana-rencanamu gagal. Hanya satu yang berhasil—nyaris berhasil. Kau terduduk di pinggir area. Otak dan pikiranmu bergelut.

Harus kuapakan lagi ini? Begitu pikirmu.

Kautahu kau harus menyelesaikannya. Hal ini seharusnya mudah kalau tak ada pecundang yang mengacau. Harusnya, pria tua itu sudah tercerai-berai tubuhnya kalau saja si pecundang tak datang.

Dan menggagalkan semua rencanamu. Harusnya kau bisa mengatasinya dengan cepat. Kau bukanlah tipikal lelaki yang tak mampu berpikir cepat; kau selalu bisa menemukan jalan keluar setiap strategimu tak berjalan sebagaimana mestinya.

Namun kali ini, organ lunak di dalam tempurung kepalamu tak bekerja selayaknya kau yang biasa. Kau bahkan tak tahu mengapa.

Yang kautahu, kau sedang tak bisa berpikir sama sekali. Iris birumu bisa melihat dengan jelas semua kerusakan, kekacauan, dan kehancuran yang telah kauperbuat. Cipratan darah di mana-mana. Kepulan asap membubung tinggi. Lidah api menjilat-jilat; yang sebelumnya hanyalah berupa percikan api yang kaukagumi.

Puing-puing reruntuhan beton, serpihan-serpihan kaca, satu-dua gedung pencakar langit yang tegaknya tinggal setengah, satu-dua bunyi ledakan yang kadang terdengar lagi dibarengi jeritan-jeritan, membuat distrik tempatmu terduduk sekarang menjadi rata sebagian bak lapangan kosong.

Dan semua kehancuran itu tak berarti apa-apa dengan datangnya si pecundang.

Pecundang-pecundang yang sok berperilaku normatif terhadap hukum.

Para penegak hukum sialan itu telah menghancurkan semua strategimu.

Para penegak hukum tak berguna itu seharusnya tidak menghalangimu untuk mencerai-beraikan pria tua yang telah merusak seluruh kehidupanmu.

Pria tua sok elegan yang telah merampas semua milikmu.

Membuatmu menjadi entitas yang hanya hidup sendirian di dunia fana ini.

Sebatang kara.

Kau hampir, sedikit lagi, bisa melepaskan belenggu pria tua itu dari dunia ini kalau saja para pecundang tak ada.

Dan para pecundang itu dengan seenaknya menggagalkanmu?

Jangan bercanda.

Para penegak hukum itu tak tahu apa-apa. Mereka tak tahu pria tua itu adalah penjahat yang sesungguhnya. Dan mereka malah melindungi pria sok elegan itu dari seranganmu

Lalu memandangmu dengan tatapan jijik serta hina.

Kau mendecih, merasa muak dengan yang tengah kaulihat. Kautendang kubangan air di dekat kakimu; sebagai pelampiasan kesalmu. Kautahu kau hanya bisa terduduk di situ.

Dua serangan timah panas sempat mengenaimu; salah satunya bersarang di pinggangmu.

Hal itulah yang membuat otakmu tak mampu berpikir jernih. Organ lunak itu terus-menerus mengirimkan sinyal; memberitahumu rasa sakit yang berusaha kauabaikan sejak tadi.

“Brengsek.” Kau mengumpat lalu meludahkan likuid merah yang ingin mendesak keluar dari pengecapmu.

Titik-titik air mulai tampak jelas; gerimis itu mulai melebat, mulai mematikan jilatan-jilatan si jago merah. Gumpalan-gumpalan awan kelabu memenuhi cakrawala di atasmu. Kau mendongak hanya untuk sekadar memandangi lukisan abu-abu.

Derap-derap langkah yang menyambangi telingamu, berhasil membuatmu mengalihkan atensi dari lukisan abu-abu. Manik birumu agak melebar saat kau sadar para pecundang itu mulai mendekatimu; ingin mengepungmu.

Menangkapmu.

Mungkin mengeksekusimu juga.

Karena kau sempat menghilangkan sebelah mata si pria tua yang menyedihkannya, adalah pejabat penting di kotamu.

Kau sempat melihat senyum kemenangan tergambar di wajah pria tua sialan yang sangat kaubenci; membuatmu benar-benar ingin merobek mulutnya.

Kau berniat untuk bangkit, namun tubuhmu berkehendak lain; ia tetap terduduk di atas tanah basah. Lagi-lagi kau mengutuk situasimu.

Mengutuk tubuhmu sendiri.

Netra birumu memicing, menatap sinis pada objek yang semakin mendekatimu. Bau anyir dan karat mulai mengganggu penciumanmu; kau baru sadar kalau darahmu sudah mengalir cukup banyak. Kautahu kau bisa saja mati saat itu juga.

Tapi kau menolak. Kau sudah bersumpah tak akan mati sebelum membunuh si pria tua bau tanah.

Kau meringis, sesekali berjengit ketika luka di pinggangmu berdenyut; membuat tanganmu semakin erat mencengkeram. Kau mengerjapkan iris birumu beberapa kali. Tetesan-tetesan air mengenai matamu, terasa perih; mengaburkan pandanganmu.

Gerimis itu semakin lebat. Berhasil membasahi helai-helai pirangmu dengan sempurna. Namun kau tak peduli. Apa pentingnya memikirkan tetesan sang hujan yang mendera?

Ada rasa yang lebih menjengkelkan lagi dari itu.

Dua puluh meter.

Sembilan belas meter.

Delapan belas meter.

Kauhitung meter demi meter jarakmu dengan para pecundang sialan itu. Semakin teretas. Semakin dekat denganmu.

Dan kau tak bisa melakukan apa-apa.

Astaga, betapa kau sangat membenci keadaan seperti ini.

Keadaan di mana kau tak bisa melakukan apa pun.

Selain terduduk bodoh.

Lalu kau tersentak, menyadari ada derap kaki lain dari arah belakangmu. Hanya satu orang, kau bisa mengetahuinya dengan jelas. Kauingin menoleh tapi atensimu lebih dulu tersita pada langkah para pecundang yang tiba-tiba terhenti; seakan terkaget akan sesuatu.

Kemudian, iris biru langitmu menyadari ada sesuatu—ada tiga benda lonjong yang terlempar ke arah pasukan penegak hukum yang kausebut pecundang itu. Matamu memicing lagi; berusaha menerangkan pandanganmu yang mengabur, untukmu mengetahui bahwa tiga benda lonjong itu adalah granat.

Samar, sudut bibirmu tertarik; membuat bentuk kurva terbuka. Seringai terpeta rapi di wajah tampanmu. Kau bisa melihat dengan jelas kepanikan luar biasa yang melanda entitas-entitas tak tahu diri tersebut.

Kau tak perlu menunggu detik bergulir lebih lama untuk—

DUAAARR!!

—memanjakan telinga dengan bunyi yang sangat kausukai itu.

Teriakan, jeritan, dan raungan terpenuh akan rasa sakit yang kaudengar, semakin melebarkan seringaimu. Ledakan besar tercipta di hadapanmu; jadi pemandangan menarik tersendiri bagimu. Netramu berbinar antusias melihat potongan-potongan tubuh terlempar ke sembarang arah, terberai tak menentu; sebuah tangan terjatuh tak jauh dari tempatmu terduduk.

“Heh.”

Hanya itu yang kaulontarkan dari mulutmu. Kau terus memerhatikan hingga kepulan kelabu itu hilang dimakan rintikan sang hujan; memperjelas pemandangan yang kauinginkan sejak awal rencanamu kaususun.

Para pecundang itu tergeletak; tubuh mereka hampir tak bergerak semuanya. Satu-dua entitas sempat kaulihat masih bisa menggerakkan diri—mencoba untuk bangkit namun nihil. Ledakan granat tadi berhasil melumpuhkan mereka. Tiga detik, seringai masih bertahan di wajahmu sampai kau sadar ada satu sosok yang masih berdiri tegap.

Membuat manik biru langitmu membelalak.

Si pria tua.

Dengan sebuah pistol di genggamannya.

Melihatnya, kau menggeram marah. Kenapa pria tua itu hanya lecet sedikit sementara pecundang yang lain bahkan kehilangan nyawa mereka? Kau tak habis pikir.

Kau meludah lagi, lagi-lagi likuid kental yang mulai membuatmu merasa pusing; kau sudah cukup kehilangan banyak darah. Napasmu terengah. Otakmu semakin gentar mengirimkan sinyal rasa sakit; membuat tubuhmu gemetar.

Kau hanya sempat melihat pria tua itu selama dua detik sebelum mata birumu tertutup paksa; rasa sakit lebih memegang kendali tubuh membuatmu memejamkan kedua matamu rapat-rapat.

DOR!

Adalah bunyi memekakkan yang bisa kaudengar sedetik sebelum kausadari tubuhmu terdorong ke belakang, menghilangkan sedikit keseimbanganmu—

“ARGH!”

—membuatmu mengerang keras saat kaurasakan sakit yang teramat sangat di bahu kirimu.

Sial.

Timah panas itu bersarang lagi; kali ini di bahumu.

Kaubuka iris birumu hanya untuk mendapati si pria tua tertawa keras; menertawaimu yang tengah mencengkeram bahu dengan kuat. Dinginnya rintik hujan, tak membuatmu merasa sejuk sama sekali. Peluh dan tetesan sang langit, menyatu menjadi satu.

Kau merintih lagi.

Sakit.

Telingamu mendengar lagi dua bunyi desingan peluru, tapi lagi-lagi dari arah belakangmu. Manikmu memerhatikan dengan saksama bagaimana pistol di genggaman si pria tua terlempar jauh akibat tembakan yang kaudengar barusan dan bagaimana pria tua itu jatuh tersungkur karena timah panas mendatangi betisnya; bersarang di situ.

Awalnya, kau tidak memedulikan siapa yang melempar granat pada pecundang-pecundang itu walau kautahu orang itu menolongmu. Tapi kali ini, kau peduli.

Siapa yang membantuku? Kau bermonolog pada dirimu sendiri.

Langkah kaki yang cepat; mungkin ia berlari, begitu pikirmu—kembali menyambangi pendengaranmu.

“YOU STUPID FREAK!”

Satu lagi suara memekakkan yang berhasil kaudengar. Kau mendongak untuk bisa menatap siapa sosok yang tiba-tiba datang dengan pistol di tangan, berdiri di hadapanmu, lalu memberi bentakan dengan suara melengking.

Iris birumu melebar. “Kau….”

Sosok itu adalah seorang gadis yang cukup kaukenal.

Partnermu selama ini.

Dan kau, entah bagaimana, melupakannya padahal seharusnya kauingat bahwa kau pergi ke sini dengannya.

“DEIDARA NO BAKA!”

Ia membentakmu lagi. Matanya berkaca-kaca—kau sudah memastikan itu bukanlah air hujan yang tengah membasahimu dan dirinya.

Ah, iya. Namamu Deidara. Dua detik, kau sempat melupakan itu.

Gadis itu bersimpuh di hadapanmu. Ia menangis saat menyadari tubuhmu bersimbah darah dengan dua peluru bersarang di tubuhmu. Kau hanya bisa terdiam; kau masih butuh waktu untuk mencerna kedatangan gadis itu.

“AKU TAHU PRIA TUA ITU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPMU! TAPI BUKAN BERARTI KAU BISA MENINGGALKANKU SEENAKNYA!”

Kau dapat bentakan lagi. Kali ini kausadar sepenuhnya. Gadis itu sudah bersama denganmu sejak sepuluh tahun yang lalu. Lima tahun setelah hidupmu dihancurkan oleh si pria tua.

Kau tidak sebatang kara.

Bagaimana kaubisa lupa?

Apakah dendam terlalu menguasaimu?

Kau menarik sebelah sudut bibir, tersenyum miring. “Memangnya ada yang … membutuhkanku?”

Jeda lima detik sebelum kau mendengar jawaban dari pertanyaanmu.

“Tentu saja ada! Dasar bodoh!”

Gadis itu masih menangis, airmatanya menyatu dengan hujan, membuatmu diam-diam terkikik.

“Kumohon…, jangan pergi lagi. Jangan berbuat seenaknya lagi….”

Dua tangan gadis itu, mendekapmu tanpa aba-aba; membenamkan wajahnya di lehermu seakan tak ingin melepaskanmu. Ia menangis tersedu.

Membuat napasmu tertahan sejenak; tidak sedikit pun kau menduga ia akan memelukmu, mendekapmu erat.

Walau bagaimana pun, kau masih sering berpikir kau hanya hidup sendirian di dunia fana ini.

“Kenapa…?” Kau akhirnya bertanya.

Gadis itu tak menjawab untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia melepaskan dekapannya padamu. Manik cokelatnya yang masih digenangi likuid bening, menatapmu dalam-dalam.

Membuatmu tahu satu hal—

“Karena aku tak mau kehilanganmu, Baka!”

—bahwa kau tak sendirian di muka bumi ini.

.

.

end

.

.

Wtf. 1. 423 words gitu.

Lol.

Ternyata nulis pakek sudut pandang orang kedua gitu asyik juga, yah. This is the first time for me to write a fiction using POV 2 ehee #apaehee #butifeelhappy

Dan lagi-lagi ini hasil ke-random-an saya—subjektif sekali karena saya nulis ini juga dibarengin galau(?) gitu jadi nulisnya menjurus ke gore(?) #itubukangorewoi

07:40, 10 Januari 2016, Minggu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s