Fiction/Fiksi

hurt

Kaupejamkan kedua matamu.

Kauhela napasmu.

Merasa lelah dengan semua ini.

Kau ingin menangis.

Namun kau cukup paham kau sulit untuk melakukannya.

Entahlah.

Netramu sering kali tak ingin—atau mungkin memang tak mampu, untuk meluncurkan likuid bening pelega segalanya.

Seharusnya memang menjadi pelega.

Jika likuid itu benar-benar terluncurkan.

Ini semua salahnya.

Dia bersalah, kautahu itu.

Dia melakukan satu kesalahan besar.

Hanya satu.

Dia membuatmu begitu mencintainya hingga segalanya terasa sakit. Menyesakkan, begitu katamu. Kau sering kali berharap, harusnya dia tak pernah ada.

Maka luka ini pun tak akan pernah ada.

Kautarik sudut bibirmu, mencoba untuk melukis sedikit kurva di wajah. Dingin terasa menusuk tulang. Kau cukup sadar sudah hampir satu jam kau memaku diri di tengah lapangan.

Berdiri menantang derasnya guyuran hujan.

Menikmati melodi merdu terhantamnya titik air ke atas tanah.

Menikmati aroma menyenangkan pembuat candu tersebab menyatunya titik air ke atas tanah.

Berharap air matamu bisa turun sederas guyuran sang langit.

Kaubiarkan tubuhmu menggigil.

Hanya karena dirinya.

Bodoh, kau sangat menyadarinya.

Tapi, apa dayamu yang hanya bisa menuruti kata hati?

Hingga membuatmu berakhir di tengah lapangan ini.

Kaubiarkan otakmu memutar memoar-memoar sialan yang berjalan bak film.

Memoar sialan tentang dirinya.

Dua tanganmu akhirnya tergerak, memeluk erat tubuhmu sendiri; yang menggigil. Tidak kauhiraukan sedikit pun jeritan otakmu yang meronta; meminta kakimu untuk segera beranjak dari bawah hujaman sang hujan.

Loh, harusnya otakmu sudah tahu, harusnya organ lunak itu sudah paham.

Bahwa kau ada di sini juga karena kesalahannya.

Karena perintahnya untuk mencintai laki-laki sialan itu.

Karena perintahnya untuk membuat perempuan seperti dirimu jatuh cinta pada laki-laki seperti dirinya.

Dasar organ tolol.

Sekelabat bayangan tentang dirinya, kembali menyambangi kepalamu. Senyum manisnya yang tak pernah gagal mengalihkan duniamu. Tatapan lembutnya yang tak pernah gagal membawamu tenggelam dalam matanya. Suara indahnya yang tak pernah gagal membuaimu dalam melodi paling merdu yang kautahu. Sentuhan-sentuhannya yang tak pernah gagal membuatmu begitu mencandu dan mendamba.

Dan …

… dirinya yang berhasil menyakitimu.

Menorehkan luka di hatimu.

Mengiris dalam.

Kau tertunduk. Kaucengkeram kuat tubuhmu yang kaupeluk; merasa perih dan ngilu.

Hingga kaurasakan kedua manikmu menghangat; kelopak matamu mulai menggenang.

Dan itu bukanlah air hujan yang masuk ke mata.

Kaugigit bibir bawahmu; mencoba untuk menahan likuid bening itu meluncur—walau tadi kau menginginkannya.

Kau tak ingin menyia-nyiakan air mata hanya untuk dirinya.

Namun kautahu kau telah gagal.

Karena cairan transparan itu lebih dulu menyelinap keluar melalui kelopak matamu, bersatu dengan sang hujan.

Dan kau terisak.

Kau tersedu.

Kau menangis.

Dengan keras.

Seolah ingin menyaingi suara derasnya hujaman dari langit kelabu.

Sama kelabunya dengan hatimu saat ini.

Semua bayangan tentang dirinya, berhasil membuat tangismu semakin kencang. Sakit, sakit, sakit sekali. Yang kauinginkan hanyalah menangis, meraung, agar semua bebanmu pergi. Menghilang.

Setidaknya untuk saat ini.

Bagaimana bisa lelaki itu menyakitimu? Bagaimana bisa lelaki itu membuatmu menangis seperti ini? Bagaimana bisa lelaki itu membuatmu memaku diri di tengah hujan?

Bagaimana bisa?

Brengsek, umpatmu.

Namun kau tidak melakukan apa pun.

Selain menangis.

Bersama sang hujan.

Yang begitu kausukai.

Tak kauhiraukan kemungkinan satu atau dua orang atau mungkin lebih, yang bisa saja menontonmu menyiksa diri.

Tapi kau tak peduli. Kautahu lapangan ini sepi. Kau juga yakin bahwa tak akan ada orang lain yang sama gilanya dengan dirimu.

Yang merelakan dirinya dihujami titik-titik air.

Ah, biarlah. Lagipula, kau baru melakukan ini satu kali. Hal ini tak akan membahayakanmu. Kautahu sang hujan akan senantiasa menemanimu.

Selalu.

Sang hujan adalah milikmu sekarang. Kau bisa menangis sekeras apa pun dan sang hujan akan melindungimu.

Akan menjagamu.

Tak akan menyakitimu.

Seperti yang ia lakukan.

Selama satu menit, kau sangat yakin tak ada siapa pun di tanah kosong ini selain sang hujan sampai—

“Maafkan aku.”

—sebuah suara menyambangi telingamu.

Suara indah yang begitu kausukai.

Bersamaan dengan dua buah tangan yang terulur dari belakang, mendekapmu erat. Dalam sekejap, kehangatan menjalari di setiap inci tubuhmu. Dinginnya guyuran sang hujan, tak berhasil menyingkirkan satu kehangatan yang ia berikan.

Satu kehangatan yang begitu mencandu.

Kau tersentak.

Irismu terbelalak.

Tak mengira akan ada entitas lain di sini.

Tak pernah mengira bahwa entitas itu adalah dirinya.

“Maafkan aku.”

Kaudengar ia mengulang lagi dua kata itu. Ia benamkan wajahnya di lehermu, meretas jaraknya denganmu; mempererat dekapannya padamu.

“Aku tak bermaksud melakukannya padamu….”

Kaudengar ia mengujar dengan nada sendu dan sesal.

Kau bergeming.

Namun air matamu semakin mengalir.

Dekapannya membuat tangismu semakin jadi.

“Seharusnya kautahu, aku tidak melakukannya….”

Kaututup pendengaranmu. Kau tak mau mendengar apa pun. Kau membencinya.

Sangat membencinya sampai terasa sakit.

Kau sedang mengabaikan satu fakta.

Bahwa sebenarnya …

… itu sama sekali bukan kesalahannya.

Hanya saja, kau sudah terlanjur menyalahkannya.

Dan ia sangat memahami itu.

Ia paham betul bahwa kau sangat mencintainya.

Melebihi apa pun.

Ia tahu kau tak ingin kehilangannya. Ia pun demikian. Tak ingin kehilanganmu.

Kau menggeleng. “Aku membencimu,” katamu. Suaramu bergetar, memperjelas keadaanmu yang tengah terisak.

“Dan aku mencintaimu.”

Kau terdiam. Bibirmu terkatup rapat saat kaudengar kalimat itu menyerang pendengaranmu. Ia bahkan tak melepas dekapannya padamu; ikut memaku diri di bawah hujaman sang langit.

Bersamamu.

Kausadar tubuhnya juga menggigil karena dingin; tak jauh berbeda denganmu.

Kausadar tubuhnya sudah basah kuyup dalam waktu yang tidak sebentar; ia sudah diguyur lebih lama darimu.

“Kau kenapa?”

Akhirnya terlontar juga dari bibirmu. Satu pertanyaan yang selalu menghantuimu setiap kali kaulihat ia tidak dalam kondisi yang baik.

Kaudengar ia terkekeh kecil di lehermu; ia masih membenamkan wajahnya.

“Mencarimu?” jawabnya dengan nada santai; tanpa beban.

Kini kautahu.

Bahwa dia mencarimu ke mana-mana.

Tanpa memedulikan apa pun.

Diam-diam, kau tersenyum. Kurva terbuka terlengkung di bibirmu. Kaukutuk organ lunak dalam tempurung kepalamu.

Mengutuk sang otak yang memerintahkan sang hati.

Untuk tak bisa berhenti mencintainya begitu saja.

Untuk selalu memaafkannya.

“Kau menyebalkan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s