Fiction/Fiksi

i will always be there for you

Hai, namaku Whisky. Terdengar seperti salah satu jenis minuman anggur? Ah, banyak yang berkata demikian. Aku seekor kucing jantan berbulu putih, abu-abu, dan hitam yang berbulu lebat serta berekor panjang. Umurku sudah tujuh tahun dan aku adalah salah satu yang berasal dari ras maine coon.

Yap.

Panjang tubuhku memang mencapai satu meter, kalau itu yang langsung terpikir oleh kalian. Tenanglah, aku tak menyerang manusia sama sekali.

Setidaknya itulah yang diajarkan oleh kakak—majikanku. Seorang gadis yang sangat cantik dan baik hati walau ia menyeramkan jika ia sedang marah.

Dan ini adalah hari ketujuh aku melihatnya nyaris tak bergerak dari sudut kamar. Selama tujuh hari itu pulalah aku tak mandi. Aku tak pernah melihat kakakku sebegitu terpuruknya.

Sebegitu hancurnya.

Sebegitu berantakannya.

Hanya karena satu laki-laki brengsek yang sudah masuk ke dalam blacklist-ku for him making my lovely sister become like … this.

Tujuh tahun hidup dengannya, membuatku paham benar seluk-beluk kakakku. Dan ia bukanlah gadis yang cengeng dan mudah menangis. Ia adalah gadis yang kuat, gadis yang selalu ceria, gadis yang selalu tertawa, gadis yang selalu berlaku gila.

Sampai laki-laki itu menyakitinya.

Meremukkan hatinya.

Menghancurkan hatinya.

Hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak akan utuh lagi.

Membuat ia berakhir dengan meringkuk di sudut kamar yang dulunya selalu indah dan menjadi tempat favoritku.

Aku sudah cukup senang ia tak lupa untuk memberiku makan. Namun …

… ia bahkan lupa untuk makan dan mengisi perutnya sendiri.

Laki-laki itu brengsek.

Membuat kakakku jadi seperti ini.

Berkali-kali aku mengeong keras, mencoba menyuruhnya untuk memakan sesuatu. Berkali-kali aku mengeong keras, mencoba menyuruhnya untuk berdiri. Berkali-kali aku mengeong keras, mencoba menyuruhnya untuk keluar kamar demi menghirup udara segar.

Namun perasaanku tak sampai padanya. Maksudku tak sampai padanya.

Ia tak paham.

Ia tak mengerti bahasaku.

Ia tak mengerti bahwa aku sangat mengkhawatirkannya. Bahwa aku sangat menyayanginya.

Bahwa aku akan selalu ada untuknya.

Tak akan pernah menyakitinya.

Seperti yang laki-laki brengsek itu lakukan.

Ketika aku mengeong untuk yang seribu kalinya, kakakku menoleh. Netranya yang tak lagi bercahaya, memandangiku dengan tatapan hampa.

Tatapan kosong yang tak pernah aku sukai.

Kantung hitam menghiasi bawah matanya; tanda ia yang nyaris tak tidur. Mata mengecil dan bengkak; tanda ia tak hentinya menangis. Hidung memerah; tanda ia terlalu banyak menangis. Rambut acak dan tak beraturan; tanda ia tak lagi mengurusnya. Bibir melengkungkan kurva ke bawah; tanda ia tak lagi tersenyum. Pakaian kusut-masai; tanda ia nyaris tak pernah menggantinya. Sinar mentari menyelinap dengan susah payah; tanda ia tak pernah membuka tirai jendelanya. Sampah-sampah makanan dan tisu berserakan; tanda ia tak pernah lagi membersihkan kamarnya.

Perih adalah yang berhasil kurasakan ketika aku melihat kondisinya.

“Meong.” Ayo, makanlah. Keluarlah. Hiruplah udara segar.

Aku tepukkan satu kaki di lengannya.

Seulas senyum kecil, terlukis di wajah cantiknya yang kini seakan kehilangan cahaya.

Sebuah senyum sedih.

Sebuah senyum yang mengandung ribuan rasa sakit.

“Whisky….”

Aku mengeong, membalas suara indahnya yang terdengar parau. Manik bak permatanya, berkaca-kaca lagi. Dua tangannya terulur padaku, dan aku mendekat padanya.

Ia memelukku erat.

Tangisnya pecah lagi.

Air mata itu mengalir deras lagi. Membasahi tubuhku, bulu-buluku yang seharusnya indah. Aku tak suka air. Namun demi dirinya, aku akan melakukan apa pun. Badannya terguncang dan gemetar. Ia terisak dan tersedu.

Lagi.

Ingin sekali aku merengkuhnya. Memeluknya. Mendekapnya erat sebagaimana yang ia sering lakukan padaku. Aku tahu ia butuh itu.

Namun, aku bisa apa? Aku bahkan tak lebih besar darinya untuk melakukan itu.

“Meoong.” Berhentilah menangis. Kau merusak rupa indahmu. Wajahmu yang cantik.

“Whiskyy….”

“Meongg.” Lupakanlah laki-laki brengsek itu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku selalu menyayangimu.

Menjadi yang bisa ia peluk, adalah satu-satunya yang mampu aku lakukan untuknya. Sampai satu minggu yang lalu, ia dan laki-laki itu bagaikan dua makhluk yang tak dapat dipisahkan.

Sampai satu minggu yang lalu, aku masih begitu akrab dengan laki-laki itu.

Sampai satu minggu yang lalu, aku masih selalu berterimakasih telah membuat kakakku bahagia.

Dan sampai satu minggu yang lalu jugalah, aku putuskan untuk tak lagi menyukai laki-laki itu. Untuk membencinya melebihi apa pun.

Atas apa yang telah ia lakukan pada gadis cantikku.

Kakakku.

Aku bisa merasakannya. Aku mengetahuinya dengan sangat jelas.

Bagaimana perihnya ia.

Bagaimana sakitnya ia.

Bagaimana remuk hatinya

Bagaimana hancur hatinya.

Aku tahu. Aku paham. Aku mengerti sekali.

Ia terus menangis. Terus mendekapku. Terus memelukku erat. Seolah tak ingin aku pergi.

Walau aku tak akan pergi meskipun ia tak mendekapku.

Aku meregangkan badan, ia mengendurkan dekapan. Dengan dua manikku yang bening, kutatap dirinya sambil mengabaikan perih yang melesak di hati; melihat wajahnya yang menangis.

PUK

Aku tepukkan lagi satu kaki, kali ini di pipinya, dengan lembut.

“Meong meong meongg.” Turutilah otakmu yang meminta untuk tak lagi menangis. Jangan siksa lagi dirimu, wahai Cantik. Kau harusnya tahu bahwa aku ikut tersiksa melihatmu seperti ini.

“Whis … kyy….”

Sialan.

Tangismu justru semakin deras. Apakah aku salah? Seharusnya aku sudah tahu bahwa yang kulakukan hanya akan membuatmu semakin membuang likuid transparan itu dengan sia-sia. Bagaimana pun juga, kau adalah wanita.

Yang pasti menangis jika dibegitukan.

Tolong, pikirkanlah perasaanku juga. Pahamilah bahasaku. Aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku ingin sampaikan segalanya padamu.

Bahwa kau tak perlu merasa kesepian.

Tak perlu merasa kosong.

Tak perlu merasa hampa.

Tak perlu merasa hancur.

Aku ada di sini. Untukmu. Selalu.

Kadang aku berdoa pada Tuhan, meminta pada-Nya, untuk kau bisa memahamiku. Untuk kau bisa mengertiku.

Untuk aku bisa membuatmu tahu …

… bahwa aku akan selalu ada di sisimu.

Namun, takdir tetaplah takdir. Aku adalah seekor kucing, dan kau adalah seorang manusia. Bahasa kita tak akan pernah sama.

Menyakitkan.

Kadang juga, aku tak habis pikir. Apa istimewanya laki-laki itu? Apa hebatnya dia? Apa yang menjadikannya sebuah candu? Apa yang menjadikannya sebuah adiksi? Apa yang selalu membuatnya memenuhi setiap sudut pikiranmu? Apa yang selalu membuatnya tak pernah pergi dari hati rapuhmu? Apa yang menyebabkan ia tak pernah luput dari matamu? Apa yang membuatmu begitu menyayanginya?

Apa yang membuatmu …

… begitu mencintainya?

Aku begitu ingin menanyakan semuanya padamu. Begitu ingin mendapatkan jawabannya darimu. Begitu ingin mengetahui segalanya sehingga mungkin bisa membuatku memaafkannya.

Namun, aku tak bisa.

Jangankan bertanya akan hal-hal tersebut. Hanya untuk mengatakan bahwa aku menyayangimu saja aku tak mampu.

Apa yang harus kulakukan agar likuid bening yang suci itu berhenti mengalir dari manik indahmu? Berhenti meluncur dari iris laksana berlian milikmu? Berhenti menganaksungai dari bola mata paling indah yang pernah kutahu itu?

Apa?

Katakanlah padaku, wahai Cantik.

Aku tak sanggup.

Untuk selalu melihatmu terpuruk seperti itu.

Untuk selalu melihatmu meringkuk di sudut ranjang seperti itu.

Untuk selalu melihatmu memeluk lutut di sudut kamar seperti itu.

Untuk selalu melihatmu menangis.

Karena dirinya.

Karena ia yang kaucintai.

“Meong meongg meeong meong.”

Wahai Gadis Cantik, berhentilah menangis. Berhentilah menodai paras cantikmu. Berhentilah memadamkan cahaya di mata indahmu. Pahamlah. Ingatlah. Aku ada di sini untuk selalu menyayangimu. Aku ada di sini untuk selalu mencintaimu. Aku ada di sini untuk selalu merindukanmu. Aku ada di sini untuk selalu mengawasimu. Aku ada di sini untuk selalu memerhatikanmu. Aku ada di sini untuk selalu mengingatmu.

Aku akan selalu ada di sini …

… hanya untukmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s