Fiction/Fiksi

#NulisRandom2017 Challenge: Day 2 – siapa tahu kita berjumpa lagi

Dengan sebelah tangan menyeret satu koper biru muda, gadis itu keluar dari terminal kedatangan. Ia baru saja tiba di Bandara Internasional Leonardo Da Vinci, Roma, Italia. Bersandar pada salah satu tiang, sang Gadis sempat melirik ke kanan dan ke kiri, berharap seseorang yang bertanggung jawab untuk menjemputnya sudah tiba.

Gadis itu datang ke Roma dalam rangka penelitian dari universitas. Pak Tua yang harus ia hormati sebagai dosen, tidak mau menerima penolakan setelah memberikan rekomendasi untuk si gadis.

Ah, daripada rekomendasi, sebut saja permintaan-memaksa-dari-seorang-dosen-untuk-mahasiswi-tersayang-nya.

“Begitu tiba di bandara nanti, cari saja wanita yang memegang papan dengan namamu. Ia yang akan menjadi pemandumu selama di Roma.”

Itu yang si Pak Tua katakan pada si gadis. Seharusnya, sih, wanita yang dimaksud sudah tiba lebih awal. Namun pada kenyataannya, sama sekali tidak.

Gadis itu menghela napas berat, kemudian meletakkan koper besarnya. Ia mulai merasa tidak begitu nyaman dengan hiruk-pikuk bandara, dengan bahasa-bahasa yang tak ia pahami selain bahasa Inggris,

Juga dengan perut yang keroncongan.

Maskapai Alitalia memang sudah menyediakan makanan untuk setiap penumpang. Namun gadis itu sama sekali tak menyentuh makanannya selama di pesawat. Ia sulit untuk beradaptasi dengan makanan lain selain masakan Indonesia. Seharusnya Pak Tua tidak memilihnya untuk melakukan penelitian ke Roma. Beliau tak tahu bahwa ia merupakan salah satu gadis yang sulit beradaptasi dengan makanan.

“Tapi, tetap saja aku lapar.” Gadis itu bergumam, sesekali bersungut, mengutuki wanita yang seharusnya sudah menjemputnya sekarang.

Menghela napas berat lagi, si Gadis mulai melebarkan pandangan ke seluruh penjuru, sembari berharap menemukan satu saja tempat makan yang setidaknya menyediakan masakan mirip-mirip dengan masakan Indonesia. Dan merupakan bonus besar kalau ia juga bisa menemukan rendang ayam di sini.

Banyaknya entitas di bandara ini, membuatnya sedikit kesulitan untuk mencari tempat makan atau sekadar membaca tulisan-tulisan di tiap pamflet. Gadis itu hampir menyerah kalau saja ia tak melihat satu restoran mini dengan gambar-gambar masakan yang ia yakini mirip dengan masakan Indonesia, lima belas meter dari tempat kakinya berpijak sekarang.

Binar-binar kebahagian bak menang undian, terpancar dari iris si Gadis. “Astaga, akhirnya aku menemukanmu, Sayang~!” Ia mengujar, untuk kemudian berlari menuju restoran tersebut.

Gadis itu tahu, perjuangannya mencari tempat makan, tak sia-sia.


“Sepertinya, aku bisa berbangga dengan penglihatanku untuk mengenali makanan yang mirip dengan masakan Indonesia, ‘kan?”

Gadis itu mengujar sembari menyuapkan sendok terakhir makanan Italia yang ia klaim mirip dengan masakan Indonesia. Kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar keras. Ia mengerjap, lalu menenggak habis Lemon Tea dingin, untuk kemudian terburu keluar dari restoran.

Ia baru ingat bahwa ia sedang berada di bandara dan seharusnya ia menunggu si wanita pemandu yang mungkin saja sudah tiba dan tengah mencarinya sekarang.

“Tuh, ‘kan, aku terlalu menikmati makanan itu.” Si Gadis mengutuk lagi, setelah berhasil keluar dari restoran mini.

Sesekali, gadis itu tersenyum, kala ia melihat beberapa wisatawan yang tampak bersusah-payah menyeret lebih dari dua koper. Ia tak habis pikir untuk apa orang-orang itu membawa terlalu banyak koper padahal sepertinya, mereka tidak akan lama di sini.

Namun, apa pedulinya? Bisa jadi para wisatwan itu memang membutuhkan banyak sekali barang dari negaranya sendiri.

Seperti yang si Gadis lakukan.

Membawa satu koper besar padahal ia hanya akan menghabiskan waktu empat hari di Roma.

Ada jeda sejenak, sebelum sang Gadis menyadari satu hal.

“ASTAGA— KOPERKU DI MANA?!”

Satu jerit yang sarat akan panik, melengking tinggi di segala sisi, tak memedulikan puluhan pasang mata menatapinya dengan dahi mengernyit.

Gadis itu tak pernah menyadari bahwa ia tak lagi membawa koper biru mudanya sejak satu jam yang lalu. Si Gadis mulai meradang, mulai melongok ke kanan juga ke kiri bak orang kesetanan, mencoba mencari keberadaan koper biru muda. Ia merasakan seolah jantungnya meluncur hingga ke perut.

Tegang, juga panik dengan napas memburu.

Gadis itu mengangkat kaki tinggi-tinggi, lalu berlari dengan kecepatan kilat, mengabaikan umpat-umpat tiap entitas yang tak sengaja ia tabrak.

Tiang di dekat terminal kedatangan adalah tujuan sang Gadis sekarang. Ia masih ingat kopernya ia tinggalkan di sana.

Gadis itu membungkuk, menopang tubuh pada lutut, memandang nanar dengan napas tersengal-sengal. Lalu tercekat. Tak ada apa-apa di dekat tiang.

Koper biru mudanya lenyap.

Kini, si Gadis terdiam. Tiap-tiap sudut pikirannya dipenuhi dengan koper, koper, koper, dan koper, beserta isinya. Seluruh barang-barangnya ada di dalam kotak beroda itu. Laptop, buku-buku perkuliahan, serta segala keperluan untuk penelitian, semua ada di dalam sana. Bagaimana bisa ia melupakan benda dengan ukuran sebesar itu? Si Gadis tak sanggup berpikir lagi. Ini negara orang, dan hal pertama yang terjadi adalah kehilangan koper.

Bodoh sekali.

Kesan pertama di Roma malah buruk.

Dengan dua tangan terkepal, gadis itu menggigiti bibir, mencoba menahan bulir-bulir dari irisnya yang bening, tak ingin meraung di sini, meski hati dan pikirannya memberontak ingin menangis.

Si Gadis benar-benar akan menangis, ketika satu tepukan pelan ia rasakan di bahu.

“Nona, apa kau mencari ini?”

Pada suara itu, si Gadis menoleh cepat, untuk mendapati sesosok lelaki berdiri di hadapannya.

Ia mendongak, lalu memandangi si Lelaki sejenak. Kemudian satu kata tebersit bak kilat di kepalanya.

Tampan.

Lelaki ini tampan, dengan jeans khaki gelap serta kemeja krem yang kedua lengannya digulung sampai siku, membalut tubuhnya penuh perfeksi. Dan satu ransel hitam ia sandangkan di bahu kiri.

“Apa kau mencari ini?” Si Lelaki merepetisi tanyanya, dengan sebuah koper biru muda di tangan kanan.

Gadis itu terenyak, sadar bahwa ia memerhatikan si Lelaki terlalu lama. Kemudian ia larikan atensi pada kotak besar yang tengah ditarik si Lelaki.

Masih dengan wajah memerah hampir menangis, dua irisnya melebar, senyum di bibirnya merekah cepat. “Koperku!” Ia berseru, dengan kebahagian yang luar biasa. “Bagaimana bisa koperku ada padamu?”

Ada kilat cahaya ketertarikan di mata lelaki itu. Ia merasa gadis ini atraktif dengan wajah hampir menangisnya.

Si Lelaki mendorong koper, memberikannya pada si Gadis. “Aku melihatmu berlari tanpa membawa kopermu. Kau sudah hilang sebelum aku sempat memanggilmu.” Ia mengujar, sembari melirik arloji yang melingkar di tangan kanan.

Gadis itu menarik lalu memeluk koper besarnya. “Akhirnya kita bertemu, Sayaaang! Aku bisa mati kalau aku kehilanganmu!” katanya pada kotak besar itu, seolah ia bicara dengan anak sendiri.

Si Gadis mengembalikan atensi pada si Lelaki, hanya untuk mendapati lelaki itu kembali mengecek arloji.

“Terima kasih sudah menjaga koperku. Aku benar-benar putus harapan kehilangan koper di negara orang,” tukas gadis itu, dengan satu senyum simpul.

Si Lelaki memetakan senyum miring, yang jelas sekali tengah ia tahan untuk tak berubah menjadi seringai. “Heh. Seorang gadis harusnya tidak ceroboh sepertimu. Dasar payah.”

Ada empat siku berkedut di dahi sang Gadis. Lelaki ini tampan, namun menyebalkan. Ia pasti akan melabraknya kembali kalau saja si Lelaki bukan penyelamat kopernya.

“Ah, sial.” Dan Lelaki itu mengecek lagi arlojinya untuk yang ketiga kali.

Ia tampak terburu-buru.

Si Gadis mengernyit, ingin melontarkan tanya namun si Lelaki menyerobot lebih dulu.

Lelaki itu merogoh saku celana. “Aku harus pergi sekarang, ada meeting yang harus kuhadiri, sopirku sudah menunggu sejak tadi. Ini untukmu,” ia memberikan satu miniatur kecil pada si Gadis, “siapa tahu kita berjumpa lagi.” Lalu ia menyeringai.

Si Gadis terpana sejenak, memandangi satu miniatur tanah liat berbentuk … burung, iya, gadis itu meyakininya sebagai burung meski sayapnya ada empat dan ada dua tanduk di kepalanya.

Tanpa menyadari si Lelaki sudah melesat pergi.

Si Gadis tersentak. “Tuan, tunggu!” Ia berseru cepat.

Si Lelaki berhenti, kemudian menoleh. “Ya?”

“Siapa namamu?”

Lelaki itu melemparkan satu senyum tak simetris. “Deidara. Namaku Deidara.” Kemudian si Lelaki melesat lagi, lalu menghilang di antara kerumunan orang.

Sebuah senyum manis terkulum di bibir si Gadis.

Deidara, mata biru sewarna langit siang hari, rambut pirang panjang sewarna mentari pagi, dan miniatur tanah liat yang mungil.

Akan ia simpan semua itu di tempat khusus pada sudut-sudut pikirannya.

‘Siapa tahu kita berjumpa lagi.’

Dan untai kalimat yang akan ia simpan di sudut-sudut hati.


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto, but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s