Fiction/Fiksi

#NulisRandom2017 Challenge: Day 9 – triumphal

“Apa yang kaulakukan di lokasi kejadian?”

“Berdiri.”

“Aku tahu kau berdiri. Jangan menjawab pertanyaanku dengan bodoh seperti itu.”

“Baiklah. Aku melihat peristiwa yang terjadi.”

“Peristiwa seperti apa yang terjadi?”

“Peledakan bom.”

“Saat kau mengetahui ada dua orang yang membawa bom, apakah kau tahu benda yang digunakan sebagai detonator adalah ponsel dengan merk iPhone?”

“Aku tidak tahu apakah satu atau dua orang yang membawa bom. Aku juga tidak tahu benda apa yang digunakan sebagai detonator.”

“Apa yang kaulakukan di lokasi kejadian?”

“Berdiri.”

Si gadis mendelik.

Si lelaki menyunggingkan senyum miring.

“Aku melihat peristiwa yang terjadi.”

“Peristiwa seperti apa yang terjadi?”

“Peledakan bom.”

“Apa yang kaurasakan ketika melihat peristiwa tersebut?”

“Maaf, pertanyaan kurang jelas. Pada saat apa di peristiwa tersebut aku harus memberitahu perasaanku ketika melihatnya?”

Si gadis menatap sinis. “Apa yang kaurasakan ketika melihat ledakan terjadi?”

Si lelaki masih mempertahankan senyum miring. “Menyenangkan.”

Ketika jawab itu terlontar, tatap sinis dilemparkan lagi oleh si gadis. Dada si gadis terasa panas, ada banyak tumpuk-tumpuk kesal di relung hati, tiap kali ia lakukan interogasi terhadap si lelaki. Deru napas si gadis tampak memburu. Butir-butir udara pada ruang tertutup ini seolah makin menipis.

Apalagi harus terjebak dengan lelaki seperti ini.

Si gadis menghela napas, lalu menjatuhkan pantat di bantalan kursi. Ia duduk bertopang dagu di atas meja dengan lebar satu meter, mengatensi si lelaki di hadapannya lamat-lamat.

Mengatensi dengan rasa muak yang infiniti.

Si lelaki ikut bertopang dagu, menyebabkan onomatope “cring-cring” dari rantai borgol yang membelenggu kedua tangannya. Kemudian membalas tatap si gadis dengan sirat afeksi. “Omong-omong, masa penahananku hanya tersisa tiga hari lagi, lho.” Ia menyeringai.

Si gadis memicingkan mata, memberi tatap benci. Ia semakin muak dengan semua ini. Ia sudah memberikan banyak tanya-tanya pada si lelaki, namun tak ada satu pun jawab-jawab yang berarti.

Ia tidak mendapatkan bukti yang cukup bahwa si lelaki adalah dalang utama terjadinya peledakan bom beberapa bulan yang lalu.

Padahal masa penahanan lelaki itu akan berakhir dalam waktu tiga hari. Namun penyidikan ini belum menemukan sedikit pun titik terang.

Si gadis masih menyimpan taksa, ingin memaki, atau tetap menahan diri. Tapi si lelaki bisa melihat ketaksaan serta buncah-buncah emosi yang sedang ditahan oleh si gadis.

Maka si lelaki menggerakkan bibir.

“Kau tidak mau menyiksaku, mungkin, untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, hm?” Si lelaki mengujar, kali ini dengan seringai lebar yang sarat akan keangkuhan.

Dan kesabaran si gadis sudah mencapai batas kulminasi.

BRAK!

Ia beranjak sembari menggebrak meja, lalu ia tarik kerah baju si lelaki dengan satu sentak keras.

“Aku. Sangat. Ingin. Menyiksamu. Sampai. Mati. Deidara.” Si gadis menyisipkan jeda-jeda di tiap kata yang ia tukaskan.

“Tapi?” Deidara menimpali, masih dengan seringai pongah, masih dengan tatap intens pada si gadis.

“Tapi sayangnya Indonesia sudah menganut asas accusatoir di mana penyidik tidak lagi diperbolehkan melakukan kekerasan terhadap semua tersangka untuk mendapatkan jawaban. Bahkan tersangka memiliki hak untuk diam. Pasti akan sangat menyenangkan jika saja Indonesia masih menganut asas inquisitoir. Aku mulai muak dengan undang-undang negara ini.” Si gadis kembali mengempaskan diri di kursi.

“Padahal aku adalah tersangka teroris?”

“Padahal kau adalah tersangka teroris.” Si gadis berdecak. “Brengsek, Deidara.”

Deidara menghela napas. “Aku juga bosan dengan benda ini.” Iris langit melirik pada satu borgol yang membelenggu dua tangan.

“Yang kaulakukan hanyalah duduk di situ lalu bersikap menyebalkan. Aku jauh lebih bosan lagi, tahu. Aku muak melihatmu tujuh kali dalam dua puluh empat jam, selama berbulan-bulan.” Si gadis mengutuk.

“Tiga hari lagi enam bulan, Sayang.” Seringai terpeta lagi di wajah Deidara.

Si gadis mendengus. “Undang-undang terorisme negara ini mewajibkan pemeriksaan tujuh kali dua puluh empat jam pada tersangka, serta masa penahanan enam bulan demi kepentingan penyidikan. Dan aku harus bertemu denganmu sebanyak tujuh kali setiap hari.”

Tawa Deidara mengudara.

“Apalagi, kau termasuk tersangka yang berharga.”

“Tentu saja. Berharga bagimu secara personal.”

Si gadis mendecih. “Enak saja. Berharga bagi proses penyidikan, sialan. Tidak banyak terduga atau tersangka teroris yang tertangkap hidup-hidup di Indonesia. Satu saja rasanya sudah cukup berharga.” Ia balik memandangi si lelaki. “Tapi kau sama sekali tidak kooperatif, Deidara.”

“Aku bertindak dengan cukup kooperatif. Aku tidak pernah mangkir ketika dipanggil, aku juga menjawab satu demi satu pertanyaan-pertanyaanmu.” Deidara mengujar, tanpa ada satu ragu pun pada suaranya.

Si gadis diam. Lelaki itu mengucapkan hal yang benar, walau si gadis ingin memungkiri. Ia sebenarnya tak punya dasar menuduh Deidara tidak kooperatif. Lelaki itu sangat kooperatif, pada kenyataannya.

Hanya saja, ada satu hal yang tak ingin si gadis akui, yang akan selalu si gadis simpan rapat-rapat.

“Hei, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Nona Penyidik.”

Si gadis melirik, sembari mengabaikan satu fakta bahwa tersangka yang satu ini terlihat tampan.

Deidara mengukir satu senyum tak simetris. “Selama ini, kau tidak pernah memberi pertanyaan yang menyudutkan padaku. Kau hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan tak berbobot.”

Si gadis mulai merasakan keringat dingin.

“Sepertinya kau tidak ingin perkara ini berlanjut ke tingkat pengadilan.”

Keringat dingin yang si gadis rasakan, bertambah kuantitasnya.

“Apa kau jatuh cinta padaku?” Deidara melemparkan satu lagi senyum miring,

yang tak pernah gagal membuat luluh si gadis.

Pada untai tanya itu, napas si gadis kian memburu. Ada dentam-dentam tak beraturan di dalam rongga dada, pun ada rona-rona tipis merambati pipi si gadis. Ia meneguk ludah.

“Tidak. Jangan mengada-ada, Deidara.” Si gadis berhasil membalas ujar. Tak sedikit pun ia berpikir lelaki itu menyadari apa yang ia simpan-simpan selama ini.

Ada pancar afeksi yang lebih dari manik biru lelaki itu. “Aku tidak butuh jawaban. Matamu sudah menjawabnya. Dengan sangat jelas.”

Si gadis tercekat.

Lalu Deidara menyeringai.

“Bahwa kau sudah jatuh cinta padaku.”


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. But this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s