Fiction/Fiksi

#NulisRandom2017 Challenge: Day 15 – assignment

“Oi.”

“…”

“Hei.”

“…”

“Sayang.”

“Berisik, Deidara! Pergi sana!”

Si gadis mendelik. Tajam. Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin Deidara sudah mati dalam lima detik.

Deidara mengernyit. “Astaga apa salahku, sih?” Ia mengujar, sembari duduk bersila di atas ranjang, mengatensi si gadis di kursi.

Si gadis menghentikan segala aktivitas, mengabaikan laptop di depan, lalu berputar dengan gerakan kilat.

Kemudian iris beningnya memicing, memberikan lagi satu tatapan membunuh pada Deidara. Bibir gadis itu gemetar. Dada gadis itu naik turun. Ia menarik napas, menghela lagi, menarik lagi, lalu menghela lagi. Ada sangat banyak buncah-buncah emosi di dalam dada gadis itu yang sudah mendidih, akan segera meluap hanya dengan waktu hitungan detik. Dua tangannya mulai menggapai buku-buku yang berderet di rak. Si gadis—

“BRENGSEK, DEIDARA!”

—benar-benar—

BUK!

“Ow! Hei—”

“BAKA! DEIDARA NO BAKA!”

BUK!

—membenci—

“Ouch!”

“MATI SAJA SANA, DEIDARA! MATI SAJA, BAKA!”

BUK BUK!

“Aduh!”

—lelaki pirang maniak seni satu itu.

Si gadis terengah, masih dengan sorot benci yang sangat dalam. Ia berhenti melempari Deidara dengan seluruh buku dari rak, setelah menyadari buku-buku di lemarinya habis.

Habis dilemparkan dengan brutal pada si pemilik iris langit.

Si gadis memandangi Deidara yang masih menyilangkan kedua tangan di depan wajah, masih siaga untuk menangkis apa pun yang mungkin akan dilempar lagi oleh si gadis.

“Kautahu, Deidara?! Aku membencimu, tahu!” Si gadis memekik, kali ini sudah menyambar beberapa boneka di atas meja.

Deidara menghela napas, sembari menurunkan tangan. “Yeah, yeah, aku tahu, aku tahu.” Ia menyingkirkan beberapa buku yang jatuh di atas pangkuan. “Apa salahku, sih? Lihat. Kamarmu jadi berantakan.”

Ada titik kesal lagi ketika si gadis mendengar lini kalimat itu. Ia angkat tangan tinggi-tinggi—

“Aargh! Kau tanya lagi apa salahmu, hah?!”

“Wajar kalau aku bertanya, ‘ka—”

BUKK!

“Duh!”

—dan melemparkan satu boneka besar lumba-lumba pada Deidara.

“AAAAA! DEIDARA NO BAKAAAA!!”

Lalu si gadis menjerit.

Hanya membuat Deidara menaikkan sebelah alis.

“Deidara baka! Bodoh bodoh! Untuk apa kau punya otak dengan intelegensi tinggi kalau kau tidak tahu kesalahanmu, hah?!”

Iris langit Deidara memicing. “Aku tidak merasa punya kesalahan, astaga, hari ini kerjaanmu hanyalah teriak-teriak seperti itu.”

Gadis itu mengerucutkan bibir. “Ah, payah! Dasar tidak peka! Kautahu?! Laki-laki selalu salah! Kecuali kau perempuan, maka kau tidak akan salah! Deidara baka!”

BUK!

“Hei!”

Satu lagi boneka, kali ini boneka kucing, si gadis lemparkan pada Deidara.

Deidara menghela napas panjang. “Baiklah, baiklah. Coba sebutkan apa kesalahanku.”

“Kesalahanmu cuma satu, Deidara!”

“Ya?”

Si gadis melemparkan pena,

“Eksistensimu di dunia ini!”

hanya membuat Deidara mencoba menahan tawa geli.

“Eksistensiku di dunia ini? Jadi kau ingin aku mati, begitu?”

“Kan memang dari tadi kubilang kau mati saja sana!”

Deidara memetakan senyum miring.

“Nggak usah senyum-senyum!” Si gadis cemberut, ingin rasanya ia lempar kursi pada lelaki itu.

Kali ini, Deidara benar-benar tertawa.

“Disuruh mati kok malah ketawa.”

Si gadis mengambil bingkai foto, berniat dilemparkan lagi.

“Hei, yang satu itu berbahaya jika dilempar.” Deidara mengujar, di sela-sela tawa.

Gadis itu meletakkan kembali bingkai foto di atas meja, membenarkan ucapan Deidara diam-diam.

“Habisnya kau menyebalkan! Gara-gara kau, tugas proposalku untuk matakuliah Metodologi Penelitian Hukum yang seharusnya dikumpul tadi pagi pas UAS, tidak selesai, tahu!”

Tawa Deidara mulai berhenti. “Dosen itu sudah memberikan dispensasi boleh dikumpulkan besok pagi, ‘kan? Seharusnya kaukerjakan tugas itu, bukannya malah menulis fiksi untuk challenge NulisRandom.”

Si gadis manyun. “Ya, ‘kan sudah kubilang ini salahmu! Eksistensimu adalah kesalahan besar! Tugasku jadi tidak selesai!”

Deidara memamerkan senyum sinis. “Heh. Otakmu kecil, dan isinya aku semua. Berhentilah memikirkanku.”

Si gadis memberi tatap sebal. Lelaki pirang satu ini benar-benar punya rasa percaya diri tingkat tinggi yang membuat si gadis tak habis pikir.

“Kalau kau tidak pernah ada, aku juga tidak akan memikirkanmu! Dan tugasku bisa selesai! Makanya kau mati saja sana, Deidara, lenyap sana! Ada, loh, itu, alat ajaib Doraemon, yang bisa menghapuskan keberadaan seolah tak pernah ada!”

Satu senyum angkuh terukir di wajah Deidara. “Kalau aku tidak pernah ada, tugas proposalmu untuk matakuliah Metodologi Penelitian Hukum itu juga tidak akan selesai.”

Si gadis memajukan bibir beberapa senti, masih dengan tatap sebal untuk Deidara. “Kenapa gitu?”

Deidara mengubah seulas senyum angkuh menjadi seringai.

“Karena kau tidak akan pernah mengangkat masalah terorisme jika tidak mengenalku.”


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. But this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s