Fiction/Fiksi

#NulisRandom2017 Challenge: Day 17 – jerk

Satu lingkaran. Dua lingkaran. Tiga lingkaran. Empat lingkaran. Lima lingkaran.

Lima lingkaran.

Seulas senyum pahit terlukis di wajah si gadis. Pancar iris bening si gadis sama kelamnya dengan langit malam tanpa satu pun rasi bintang. Ia pandangi lingkaran-lingkaran tersebut. Lingkaran-lingkaran yang mengelilingi tiap-tiap tanggal di kalender.

Dan lingkaran kelima adalah hari ini.

5 Mei.

Hari ini adalah hari ulang tahun,

juga hari kematian lelaki itu.

Si gadis menggigiti bibir yang mulai gemetar.

“Sudah berapa tahun, Deidara? Aku tidak pernah menghitung. Yang kutahu, aku selalu memandangi hari demi hari di kalender. Aku tak pernah menyukai pemakaman. Tapi karenamu, pemakaman menjadi tempat favoritku.” Si gadis bermonolog, dengan suara parau yang sarat akan isak-isak tertahan.

Ada cabik-cabik belati di dada si gadis tiap kali memoar-memoar tentang lelaki itu menghujami pikirannya. Senyum manis yang mengalahkan sinar mentari. Mata biru yang mengalahkan bentang-bentang langit. Serta tatap-tatap yang penuh akan afeksi.

Maka si gadis mengutuk.

Deidara adalah lelaki paling brengsek yang pernah gadis itu temui. Paling brengsek,

karena lelaki itu mengingkari satu janji,

untuk selalu berada di sisi si gadis,

namun pada kenyataannya, lelaki itu pergi lebih dulu, meninggalkan si gadis sendirian, di dunia yang fana ini,

selamanya.

Kalau si gadis ingin memaki, boleh, ‘kan? Kalau si gadis ingin membenci, juga boleh, ‘kan? Toh, Deidara juga sudah pergi. Lelaki itu dengan mudahnya tak menepati janji. Deidara juga tak akan tahu jika si gadis akan menguar benci-benci untuknya.

Sebab, Deidara sudah mati.

Tapi,

meskipun demikian,

si gadis tahu, hati tak bisa berbohong, si gadis sama sekali tak bisa membenci Deidara, apa pun kesalahan lelaki itu,

karena si gadis tahu pasti,

bahwa ia tetap saja mencintai Deid—

TRAKK!

“Aku masih hidup, Bodoh.”

Napas si gadis terhenti sejenak. Mata si gadis berkedip-kedip cepat, mencoba mencerna apa yang terjadi, ketika ia menyadari satu tangan telah menutup laptopnya dengan sadis, serta mencabut paksa kabel charger yang tersambung pada komputer jinjing tersebut.

Membuat gadis itu kembali pada dunia nyata,

saat ia tahu laptopnya mati total.

“Deidara!” Si gadis memekik, kemudian berputar di kursi, menoleh pada lelaki pirang itu dengan gerakan kilat.

Hanya untuk mendapati Deidara yang tengah mengatensi si gadis lamat-lamat. Dengan tatap intimidasi yang tinggi.

Si gadis menggigiti bibir, dengan iris bening yang berkaca-kaca.

“… DEIDARA NO BAKAAAA!! KENAPA KAU TUTUP LAPTOPNYA— KENAPA KAU CABUT CHARGER-NYA— TULISAN TADI BELUM DI-SAVE SAMA SEKALI— KAUTAHU BATERAI LAPTOPKU SOAK— AAAAAAA!!”

Si gadis menjerit, dengan air mata mengalir,

mengetahui hasil tulisan yang ia ketik sedari tadi, dengan seluruh tumpah-tumpah rasa, sudah lenyap tak berbekas.

“DASAR COWOK SIALAN!!”

Satu kepal tinju si gadis layangkan pada Deidara, yang dengan mudahnya ditangkap oleh si lelaki.

Deidara masih berdiri, memandangi si gadis. Salah satu sudut bibirnya berkedut. “Pfft.”

“…”

Deidara merunduk, mendekatkan wajahnya dengan si gadis. Iris langitnya memberi tatap angkuh. “Kau kesal, ya, hm?” Ia mengujar dengan intonasi penuh ejek.

Dada si gadis naik turun, napasnya mengalir tak beraturan, besarnya volume buncah-buncah emosi di dada si gadis mengalahkan besarnya volume lava pada gunung berapi yang sudah diberi peringatan siaga satu.

Siap meletus kapan pun.

Maka si gadis tak tahan lagi—

DUAKH!

“Ow!”

—untuk memendam volume-volume lava di ruang-ruang hati.

“DEIDARA BRENGSEK! SIAL! MATI SAJA SANA!”

Si gadis memaki, segera setelah ia angkat kaki tinggi-tinggi dan berhasil menendang tulang kering lelaki itu.

Deidara mundur satu langkah, meringis sedikit. “Oi, sakit, tahu.”

Si gadis berdiri, dengan manik yang memberi sorot membunuh. “LEBIH SAKIT MANA DENGAN KAU YANG MENCABUT CHARGER SAMPAI LAPTOPKU MATI DAN MEMBUAT TULISAN YANG SUDAH KUKETIK TADI HILANG SEMUA, HAH?! LEBIH SAKIT MANAAAA?? DEIDARA NO BAKA! DASAR TIDAK PUNYA PERASAAN!!” Si gadis membentak lagi, masih dengan air mata yang mengalir.

Deidara mengempaskan diri di kursi yang lain. “Astaga yang tidak punya perasaan itu kau, ‘kan? Kau selalu membuatku mati di tulisanmu.” Ia menukas setengah tak acuh, sembari menahan senyum geli.

Si gadis mengerucutkan bibir. “Aku dapat idenya seperti itu, mau bagaimana lagi?! Padahal tadi keren sekali. Brengsek, Deidara! Kau benar-benar menyebalkan!”

Deidara memetakan senyum tak simetris. “Tulis saja lagi. Tidak susah, ‘kan? Dasar payah.”

Si gadis mengacungkan satu tinju. “Enak saja! Menulis butuh feel yang tepat, tahu! Makhluk tak punya perasaan sepertimu mana bisa mengerti!” Si gadis menghardik, ingin rasanya ia cakar wajah pongah lelaki itu berikut dengan senyum coretmaniscoret yang ia ukir di bibir.

“Percayalah padaku. Kau tidak akan kesusahan dalam menulis meskipun otakmu kecil.”

Si gadis mendelik tajam, kali ini dengan keinginan penuh untuk melempar lelaki itu setidaknya dengan kursi. “Nggak usah sok tahu, Deidara. Mana mau aku percaya pada laki-laki menyebalkan sepertimu.”

Deidara menyeringai, dengan penuh keangkuhan.

“Tentu saja aku tahu. Karena sumber idemu adalah aku.”


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. But this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s