Fiction/Fiksi

#NulisRandom2017 Challenge: Day 20 – comic

“Hei.”

“…”

“Oi.”

“…”

“Astaga sedang membaca apa, sih?”

GREB.

“HEI!”

Si gadis menghardik dengan cepat, ketika sebuah buku di tangannya diambil paksa.

Buku komik.

Yang sudah dibaca si gadis sejak hampir satu jam yang lalu.

“Jadi, kau membaca ini sampai berhenti membersihkan kamar?”

“Aku tidak berhenti! Aku cuma membacanya sebentar sekalian merapikan lemari buku!”

“Yeah. Sebentar. Kau sudah berdiri di depan lemari buku itu sejak satu jam yang lalu, dengan sebuah sapu di tangan.”

Si gadis manyun. “Berisik, Deidara! Kembalikan komik itu! Kau hanya membuyarkan keseriusanku saja.”

Deidara menaikkan sebelah alis. “Keseriusan? Kau sudah membaca ini puluhan kali. Bahkan sepertinya kau sudah hapal halamannya tanpa perlu melihat.”

Si gadis buang muka. “K-Kan sudah kubilang aku hanya membacanya sebentar sambil merapikan lemari buku!”

“Heh. Mana ada orang yang sampai berhenti membersihkan kamar hanya karena komik.”

“Berisik!”

Deidara memberikan satu senyum miring. “Berhentilah melamun memikirkanku tiap kali kaubaca komik ini.”

Empat siku tercetak di pelipis si gadis. “Enak saja! Aku sama sekali tidak memikirkanmu!”

“Lalu, apa yang kaupikirkan saat membaca komik Naruto volume 40 ini, hm?” Deidara menyeringai.

Si gadis diam sejenak. Kemudian berseru dengan satu tarikan napas.

“Uchiha Sasuke!”

Si gadis berdiri, sembari memegang erat gagang sapu, sembari mencoba mengatur dentam-dentam tak tahu diri di dalam dada.

Lelaki itu tak pernah berhenti jadi menyebalkan.

Bahkan setelah ia memegang komik tersebut.

“Buat aku percaya bahwa kau memikirkan Uchiha Sasuke saat membaca komik ini.” Deidara masih mempertahankan satu seringai angkuh.

Si gadis menahan napas. Ia tak sedikit pun menduga bahwa lelaki itu justru meminta bukti.

“Biar kutunjukkan sesuatu, agar aku percaya bahwa kau memang memikirkan Uchiha Sasuke.”

Si gadis baru akan mencoba untuk memikirkan cara apa pun, ketika ia lihat Deidara mulai membolak-balik lembar-lembar komik tersebut, mencari sesuatu.

Satu firasat tak enak mulai menghantui si gadis.

“Kembalikan komiknya, Deid—”

“Ini. Lihat.”

Deidara menyodorkan komik dengan halaman bagian tengah terbuka pada si gadis,

hanya untuk membuat gadis itu tercekat.

“AAAH! BAKA!” Si gadis menjerit, dengan buncah-buncah shock yang muncul tanpa aba-aba.

“Ayo, lihat yang ini.” Deidara mengujar dengan intonasi mengejek, masih mendekatkan komik itu di hadapan wajah si gadis.

Si gadis mengalihkan pandang dengan gerakan kilat. “Nggak! Aku tidak mau melihatmu meledakkan diri di situ!”

Satu seruan refleks terlontar dari bibir si gadis.

Menyebabkan satu seringai angkuh terpeta lagi di wajah Deidara.

Membuat si gadis menyesal seumur hidup.

Deidara menaikkan dagu dengan sirat pongah. Iris langitnya menatap si gadis lamat-lamat. “Ah, kaubilang kau memikirkan Uchiha Sasuke? Melihatku meledakkan diri di sini seharusnya bukan masalah, benar?”

Si gadis menelan ludah. “Y-Yang tadi itu c-cuma refleks! B-Baka!”

Ada tawa yang tengah mati-matian Deidara tahan untuk tidak terlepas.

“Tunggu, biar kupraktekkan dialognya.” Deidara menyeringai.

Si gadis terenyak—

“Kali ini, aku yang akan meledakkan diri! Aku yang mati, akan menjadi seni! Aku akan meninggalkan luka yang selama ini tak pernah ad—”

TRAKK!

“Aduh!”

“… NGGAK USAH DIBACA KAYAK GITU JUGA DIALOGNYA— JANGAN BACA DIALOG ITU SEOLAH-OLAH DEIDARA YANG DI KOMIK ITU ADALAH DEIDARA YANG BERBEDA DENGANMU— BRENGSEK, DEIDARA, MATI SANA! KEMBALIKAN KOMIKKU!”

Si gadis menyambar komik tersebut dengan cepat, segera setelah ia melemparkan sapu pada Deidara. Dada gadis itu naik turun, dengan napas terengah. Ada lagi degup-degup tanpa ritme teratur di dada si gadis.

Deidara mengambil sapu yang tergeletak di lantai. “Kenapa? Perasaanmu tidak enak, hm?” Ia menyeringai, lagi.

Satu tatap membunuh gadis itu berikan pada Deidara. Seharusnya, yang gadis itu lakukan sekarang adalah membersihkan kamar bak kapal pecah.

Bukannya malah bertengkar menyebalkan dengan Deidara.

“Mati sana, Deidara! Aku membencimu! Kembalikan sapuku—”

Si gadis mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“—DAN KELUAR KAU DARI KAMARKU!”

BUK!

“Ow!”

Satu komik Naruto volume 40 yang baru saja diambil si gadis, ia lemparkan lagi pada Deidara hingga mengenai kepala pirang lelaki itu.

“Lima hari tidak menulis untuk challenge NulisRandom, dan ini yang kaulakukan padaku.” Deidara memberi tatap sedih,

yang hanya membuat si gadis semakin ingin mencakar paras tampan lelaki itu.

Si gadis mendelik. “Aku tidak menulis juga karena kau!”

Deidara mengukir satu senyum tak simetris. “Ah, aku lupa. Kau sensi denganku, waktu itu.” Ia menaik-naikkan alis, sembari memberi tatap sombong.

“…”

“Aku memang benar-benar sumber idemu, ya, pfft.”

“Makanya mati saja sana, Deidara! Lenyap sana!” Si gadis memekik dengan bibir mengerucut.

Deidara menaikkan sebelah sudut bibir, memamerkan sebuah senyum miring yang khas.

“Aku tidak bisa mati atau lenyap.”

Mata si gadis memicing tajam. “Kenapa? Semua orang bisa mati.”

Deidara menyeringai, lebar, dan penuh kepongahan.

“Karena gadis yang mencintaiku akan kehilangan sumber ide untuk selamanya.”


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s