Fiction/Fiksi

#JumblingJuly2017 Challenge: Day 1 [rasa takut] – constellation

Malam ini, langit cerah sekali. Sang langit memenuhi diri dengan konstelasi-konstelasi gemintang yang infiniti. Pun dengan sang bulan yang menggantung indah bak mentari, tapi di malam hari.

Si gadis mendongak, demi memandangi cakrawala penuh bintik-bintik sinar. Satu senyum terukir di bibir si gadis. Ada kehangatan yang mendalam saat tumpuk-tumpuk gemintang itu memenuhi mata beningnya. Mengagumi tabur-tabur bintang adalah salah satu hobi si gadis.

“Deidara, kau takut mati, tidak?”

Suatu malam, dengan tabur-tabur gemintang yang sama, si gadis bertanya pada sosok lelaki yang menemaninya pada jam dua belas malam.

Si lelaki mengerutkan dahi. “Bukankah pertanyaanmu hanya akan menghancurkan keindahan bintang-bintang yang kaukagumi itu?”

Maka si gadis manyun, lalu mengujar. “Habisnya, cuma aku yang menikmati bintang-bintang itu. Kau lebih dulu merusak suasana dengan mengatakan bintang-bintang itu membosankan.”

Deidara memberi tatap tak acuh. “Bintang-bintang itu memang membosankan. Mereka akan diam di situ selamanya. Sama sekali tak bersifat sementara.”

Si gadis mendelik.

“Kecuali bintang-bintang itu saling bertabrakan kemudian meledak, lalu menghilang dalam sekejap, maka bintang-bintang itu akan memiliki keindahan yang tak bisa didefinisikan.” Deidara melanjutkan ujarnya, dengan lengkung kurva sarat akan kebanggaan terukir di bibir.

Hanya untuk membuat si gadis menghela napas. “Perlu kutambahkan kalimat selanjutnya?”

Deidara menyeringai. “Silakan.”

Si gadis menaut iris langit Deidara lamat-lamat. “Seni adalah ledakan. Sudah benar?”

Tawa Deidara mengudara. “Absolut.”

Si gadis memandangi Deidara selama beberapa detik, untuk memerhatikan lelaki itu tertawa lepas. Ia suka. Suka sekali. Tawa lelaki itu mengadiksi, karena jarang sekali terlihat, pula berakhir sementara.

Kemudian, si gadis mencuri beberapa detik lagi, masih untuk memandangi Deidara, tapi kali ini, untuk mengutuki betapa maniaknya lelaki itu dengan seni, serta ledakan.

Biar begitu, si gadis tak ambil peduli, apalagi mengambil pusing.

Si gadis mencintai Deidara, sebagaimana lelaki itu mencintai seni.

“Jadi,” si gadis memulai konversasi lagi, “apa kau takut mati?”

Si gadis tak mengerti kenapa ia ingin sekali menanyakan satu hal ini pada Deidara meski ia tahu pertanyaan seperti ini hanya akan membuat sinar-sinar bintang di atas sana meredup, bahkan hilang.

Deidara diam sejenak, sementara mata biru itu menerawang. “Tidak.”

Napas si gadis terhenti sesaat.

“Kenapa? Apa kau takut?” Lelaki pirang itu mengembalikan tanya, kali ini melirik pada gadis di sisi.

Gadis itu diam. Ia tahu, tahu sekali bahwa ia benar-benar membenci kematian. Makin ia dengar jawab-jawab yang Deidara lontarkan, maka makin banyak pula gejolak-gejolak absurd tanpa batas yang memenuhi dada. Seharusnya, si gadis tak usah membicarakan hal seperti ini di bawah langit dengan taburan bintang. Tapi sekali lagi, si gadis ingin, ia ingin membicarakan hal ini.

Meski ia mengerti sang hati tak mampu mengimbangi.

Si gadis menarik napas. “Aku takut,” ia menggigiti bibir, “aku takut kalau kau mati, Deidara.”

Ada hening beberapa jenak, segera setelah si gadis menyelesaikan untai kalimatnya.

Baik Deidara maupun si gadis, memiliki pikir-pikir sendiri yang meruak ganas di dalam benak, yang meruak cepat bak kilat.

“Pfft.”

Si gadis memberi tatap tajam.

Deidara terkekeh. “Ah, benarkah? Bukankah kau selalu ingin aku mati? Seperti, ‘mati saja sana, Deidara baka!’, begitu?” Satu seringai menggantikan tawa menyebalkannya.

Maka si gadis mengerucutkan bibir, ingin rasanya ia raih bintang-bintang tersebut lalu melemparkan semuanya pada Deidara.

“Mati saja sana, Deidara.” Ujar refleks dengan cepat meloloskan diri dari bibir si gadis.

“Nah, ‘kan?”

“…”

Diam seribu bahasa adalah satu hal emas yang si gadis lakukan saat ini. Ia tak akan bicara lagi, karena lelaki itu hanya akan semakin menjadi-jadi. Dan si gadis tak mau kena darah tinggi di bawah horizon malam penuh dengan bintang yang berkonstelasi. Kenapa pula ia harus mengakui ia takut kehilangan Deidara langsung di hadapan si pemilik nama, padahal harusnya ia sudah tahu kalau laki-laki itu menyebalkan.

Satu kutuk diberikan lagi oleh si gadis.

Brengsek.

Deidara memejamkan mata. “Kalau begitu,” ia membuka kembali iris langit tersebut, kemudian menoleh pada si gadis dengan tatap penuh afeksi.

Si gadis menunggu.

Sebuah senyum miring terpeta rapi di wajah Deidara. Sebuah senyum manis, yang paling disukai si gadis.

“Aku tidak akan mati.”

.

.

.

Si gadis berdiri, tegak, sama sekali bergeming, dengan tatap bening yang kelam.

Tepat di hadapannya adalah sebuah kawah, besar, sangat besar, juga sangat luas, dengan radius sepuluh kilometer, yang ingin sekali si gadis harapkan sebagai sekadar kawah meteor,

namun Tuhan sama sekali tak mengabulkan satu harap si gadis.

‘Aku tidak akan mati.’

Dengan kalimat itu mengiangi benak, maka si gadis pun memaki—

“Brengsek, Deidara—”

Tes.

“—jangan mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak bisa kautepati—”

Tes.

“—atau sok keren dengan bilang tidak akan mati—”

Tes.

“—atau memberi senyum manis yang membuatku percaya—”

Tes.

“—bahwa kau tidak akan mati! Dasar maniak sialan! Tolol! Bodoh! Brengsek!”

—dengan tetes-tetes air mata yang meruak sempurna dari iris bening si gadis.

Karena pada akhirnya, Deidara pergi. Lelaki itu memilih mati. Ia meledakkan diri di pertarungan terakhir.

Ia bilang ia tak takut mati, pada si gadis ia berjanji tidak akan mati, hingga akhirnya hanya mampu mengingkari, ujar-ujar pongahnya pada si gadis.

Sejahat itu.

Yang Deidara lakukan pada si gadis sejahat itu.

Maka si gadis menangis, dengan isak tinggi, memaksa otak untuk menghapus jejak-jejak Deidara yang menjerati tiap inci pikirnya dengan sadis.

Namun nihil.

Karena bayang-bayang lelaki itu tak pernah pergi, mengakar dengan ganas dalam diri si gadis, menggerogoti jiwa si gadis sedikit demi sedikit.

Karena si gadis tak pernah bisa berhenti mencintai Deidara,

sebesar apa pun kesalahan yang lelaki itu perbuat.

Malam ini, langit cerah sekali. Sang langit memenuhi diri dengan konstelasi-konstelasi gemintang yang infiniti. Pun dengan sang bulan yang menggantung indah bak mentari, tapi di malam hari.

Si gadis mendongak, demi memandangi cakrawala penuh bintik-bintik sinar. Satu senyum terukir di bibir si gadis.

Senyum pahit, yang sarat akan luka-luka infiniti, tiap kali matanya mengatensi tabur-tabur bintang tersebut.

Tabur-tabur bintang yang hanya akan memberi tabur-tabur memoar tentang Deidara, hingga membentuk konstelasi-konstelasi tanpa batas kulminasi dalam benak-benak si gadis.

Ada miliaran tumpuk gemintang di langit.

Miliaran tumpuk gemintang yang tak akan pernah mampu menggantikan posisi Deidara,

di hati si gadis penuh katastrofa,

sebagai bintang paling indah,

yang menghilang dalam sekejap.


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto, but this story is purely mine (and inspired by LastMelodya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s