Fiction/Fiksi

#Noctober2017 Challenge: [prompt: Watching You Leave] Day 08 – laut

Satu tahun terakhir ini, laut menjadi tempat terfavorit yang si gadis datangi paling tidak tiga kali dalam seminggu. Apalagi jika laut sedang cerah, si gadis pasti akan melakukan segala cara agar ia bisa menyempatkan diri untuk datang ke sini.

Seperti hari ini.

Hari ini, semesta sedang cerah, cerah sekali. Tak ada satu gumpal putih pun bergelantungan di langit; bahkan walau hanya searak-arak kecil. Jadi, si gadis membatalkan apa pun rencananya hari ini.

Agar ia bisa mendatangi laut di hari cerah seperti ini.

Gadis itu berdiri, memaku diri di atas pasir; di tepi laut, membiarkan tiap debur ombak menyentuh jemari kaki, dan butir-butir air yang mengempas diri. Diam-diam, ia hirup aroma asin yang berembus dalam jeda-jeda terorganisir. Aroma pekat yang ia sukai; aroma yang sama dengan si lelaki pencuri hati.

Deidara menyukai laut, dengan alasan yang cukup untuk membuat si gadis terdiam tanpa kata saat pertama kali ia mendengarnya. “Aku suka laut; terutama jika sedang cerah. Karena di sini aku bisa bereksperimen dengan ledakanku untuk menjadi seni yang sempurna, tanpa ada satu intervensi pun,” begitu katanya.

Maka tersebab oleh alasan itu, aroma laut menjadi aroma kedua yang melekat pada diri Deidara—yang pertama adalah aroma api; bersumber dari ledakan-ledakan yang ia ciptakan, atau mungkin mesiu jika ingin ditambahkan.

Gadis itu suka, suka sekali melihat Deidara berdiri di tepi laut, atau saat sesekali kaki-kakinya menginjak ke dalam air, ketika lelaki itu mulai bereksperimen dengan ledakannya—seni, kalau kata si lelaki. Ia suka memerhatikan bagaimana nyalang biru langit pada mata Deidara berkontradiksi dengan birunya air pada laut yang membentang tanpa tepi di hadapannya.

Walau sesekali si gadis juga berpikir, apakah mentari di atas laut akan marah jika pancar cerahnya tersaingi dengan helai-helai pirang panjang yang Deidara miliki.

Satu senyum simpul ia kulum di bibirnya yang ranum. Ulas senyum itu berhasil muncul, ketika ia lihat Deidara memulai eksperimennya; sama sekali tidak menyadari apa pun di sekeliling.

“Seni adalah … ledakan!”

Lelaki itu berteriak dengan lantang, lalu disusul dengan bunyi menggelegar yang menggetarkan air laut dan pasir-pasir di sekitarnya.

Juga menggetarkan hati si gadis tiap kali iris berliannya menaut Deidara dalam jarak dua meter dari sisi.

Segera setelah itu, Deidara akan menoleh, secepat cahaya, dengan senyum sumringah.

“Hei! Bagaimana? Seniku sempurna, ‘kan?”

Kemudian menuturkan satu tanya yang klasik—klasik bagi si gadis, karena kalimat itu adalah kalimat yang selalu Deidara tanyakan tiap kali ia selesai melakukan eksperimen.

Kalau sudah begitu, si gadis akan tertawa kecil, mengangguk satu kali dalam ujaran yang juga klasik, “Iya, sempurna. Sempurna sekali,” lalu mengukirkan satu cengir lima jari hingga matanya hanya tinggal segaris; terlampau senang hanya karena melihat Deidara dalam ingar-bingar cipta seni.

Senyum sumringah yang terpeta di wajah tampan Deidara setiap kali lelaki itu menyelesaikan eksperimen adalah favorit si gadis. Apa mau dikata, Deidara akan mengumbarkan senyum tulus penuh antusiasme hanya ketika lelaki itu sedang membicarakan seni. Sisanya, senyum-senyum Deidara akan lebih cenderung pada senyum miring, atau seringai sinis—acap kali menyebalkan.

Tapi, si gadis menyukai semuanya. Ia suka semuanya, apa pun tentang Deidara.

Maka, sekali lagi, satu senyum terlukis elok di wajah cantik si gadis; namun ada pahit dan getir yang terselip, serta genangan kecil tersemat luka pada iris bening si gadis.

Sebab, apa yang ia lihat sedari tadi adalah bayang-bayang Deidara; cetak-cetak memori yang terproyeksi menjadi ilusi abadi.

Lelaki itu menjumpai kematian, satu tahun yang lalu, di sini, di tepi laut ini.

Hari itu, Deidara datang lagi ke laut, seperti biasa, sembari membawa seni ciptaannya untuk ia eksperimenkan. Dan gadis itu mengikutinya; selalu menemani Deidara, untuk kesenangan pribadi, atau karena takut kalau-kalau lelaki itu akan lenyap dalam sekejap.

Ia tak mau kehilangan Deidara. Sama sekali tidak mau.

Dengan penuh kebanggaan, iris langit Deidara memandangi peledak di tangannya; ada senyum favorit lagi, diam-diam dicuri oleh si gadis dan ia simpan potret senyum itu lekat-lekat di sudut pikiran.

Lalu, Deidara berbalik sedikit, berhadapan dengan si gadis, setelah ia palingkan atensi dari peledak yang dikagumi. Ia tatap gadis itu dengan afeksi eksplisit.

Kemudian mengujar. “Hari ini, menjauh dariku, ya.”

“Hah?”

“Menjauh dariku, sekitar dua puluh lima atau tiga puluh meter. Seniku hari ini adalah masterpiece! Ledakannya akan jauh lebih besar dari yang biasa. Maka kau harus menjauh, agar efek ledakannya tidak mengenaimu.”

Si gadis mendelik tak habis pikir. “Memangnya kalau kau yang kena, tidak apa-apa, begitu?”

“Tentu saja. Aku sudah bergelut dengan bahan kimia setiap hari.” Deidara memamerkan seringai pongah.

“Astaga, Deidara.”

“Kau cukup melihat dari situ saja. Akan kupastikan kau berdecak penuh kagum tanpa kata setelah melihat seniku kali ini!”

Ada jeda sejenak, sebelum si gadis menghela napas pasrah, mengujar satu larik, “Baiklah,” lalu menuruti apa yang Deidara katakan. Menjauh dari lelaki itu sekitar dua puluh lima atau tiga puluh meter.

Tanpa pernah menyadari bahwa itu adalah interaksi terakhirnya dengan Deidara.

Pada jarak sejauh ini, si gadis tak akan bisa memandangi senyum favorit yang akan Deidara uarkan nanti. Sebenarnya, ia kesal, kesal sekali, namun tak ada yang bisa ia perbuat, selain menatap Deidara dari kejauhan.

Maka gadis itu mulai mengembalikan atensi lamat-lamat pada si tambatan hati. Ia mulai memerhatikan Deidara, untuk pertama kalinya, dari kejauhan. Ia tak bisa melihat dengan begitu jelas—Deidara tampak mengecil dari jarak segini—namun ia bisa tahu lelaki itu akan memulai eksperimennya.

Kemudian, gadis itu menyatukan Deidara di kejauhan dan Deidara di rekam ingatan, agar menjadi satu potret yang utuh; sebab kali ini ia tak bisa memandangi Deidara dari dekat.

Biasanya, Deidara akan menerbangkan peledak ciptaannya ke tengah laut dengan sebuah pesawat radio kontrol, kemudian menggunakan detonator untuk meledakkan bom pada pesawat kecil tersebut.

Tapi kali ini, Deidara tidak menggunakan detonator apa pun, melainkan sebuah timer otomatis, dan akan meledak jika pesawat kecil itu sudah berada di tengah laut.

Mungkin karena itulah ia sebut sebagai masterpiece.

Lalu, apa yang si gadis dengar selanjutnya adalah satu bunyi yang terlampau menggelegar, terlalu memekakkan telinga, terlalu dekat. Hingga gadis itu menyadari bahwa ledakan itu berasal dari tepi laut, bukan dari tengah laut sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Bom itu meledak, lima meter setelah pesawat kecil itu terbang.

Dan ledakan besar itu mengenai Deidara tanpa sedikit pun cela; mestinya lelaki itu masih bisa selamat kalau saja ia tak terkena paparan radiasi secara langsung.

Deidara melakukan satu kesalahan kecil, namun fatal; ia salah mengkalkulasikan tingkat akurasi timer otomatis tersebut, menyebabkan bom tersebut meledak dalam waktu yang terlalu cepat.

Terlalu cepat pula untuk si gadis menerima informasi ini.

Lalu, gadis itu membeku, maniknya membelalak, alir napasnya terhenti sejenak; ia membisu, terdiam tanpa satu pun kata bisa dilontarkan.

“Akan kupastikan kau berdecak penuh kagum tanpa kata.”

Sebaris ucapan itu terngiang di kepala si gadis, ucapa yang beberapa menit lalu Deidara ujarkan tanpa sedikit pun tanda-tanda.

Gadis itu memang terdiam, tanpa kata.

Melihat Deidara pergi, pergi selamanya; lelaki itu meregang nyawa tepat di hadapannya.

“Hari ini, menjauh dariku, ya.”

Satu lagi untai kalimat Deidara menyerbu benak si gadis, terasa bersinkronisasi dengan apa yang telah terjadi.

Deidara menyuruh gadis itu untuk menjauh, karena Deidara tahu ia akan pergi.

Sang gadis tak pernah berpikir, bahwa lelaki itu akan menjumpai kematian, karena masterpiece itu sendiri. Ia juga tak pernah berpikir, bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir ia melihat Deidara.

Hari terakhir untuknya bisa melihat senyum favorit yang hanya dimiliki oleh Deidara seorang.

Ada makian-makian kecil yang gadis itu lemparkan untuk Deidara. Makian-makian serupa, “Dasar bodoh, mana ada yang mati karena hal yang dicintainya sendiri,” atau “Setiap hari kukatakan padamu ledakan itu berbahaya, nanti kau mati; rupanya aku benar,” diujarkan dalam serak-serak yang mencapai kulminasi, dalam parau-parau yang infiniti.

Sakit, sakit sekali.

Menjadi saksi hidup si terkasih yang mati.

Deidara benar. Efek ledakan itu tak akan mengenai si gadis. Namun, Deidara tak pernah tahu. Bahwa efek yang mengenai si gadis akan jauh, jauh, jauh lebih besar dari sekadar efek sebuah ledakan.

Dan tak akan pernah sirna.

Maka sekali lagi, gadis itu berdiri, memaku diri di atas pasir; di tepi laut, membiarkan tiap debur ombak menyentuh jemari kaki, dan butir-butir air yang mengempas diri. Ia pancangkan tatapnya yang menggenang, memandang dengan nyalang pada cakrawala dan samudera yang hanya dipisahkan oleh satu garis linear tak berujung.

Layaknya ia dan Deidara yang hanya dipisahkan oleh satu garis rindu tak bersudut.


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s