Fiction/Fiksi

#NovemberRomance Event: Day 27 – graduation

“Congratulations, Dear!”

“Ya ampun, Sayaaang! Selamat, ya!”

Eww, akhirnya kau sampai di sini, Nak!”

“Cumlaude, ya? Selamat, selamat!”

“Wisuda juga, ya, Sayang! Selamat menjadi sarjana!”

Hiruk-pikuk di pekarangan dan aula utama universitas tampak seperti tak akan pernah berakhir sejak tadi siang; padahal sore sudah hampir tiba. Ucapan-ucapan tersebut hanyalah beberapa dari banyaknya ucapan yang didapat oleh si gadis.

Hari ini, si gadis resmi mendapatkan gelar sarjana setelah mengenyam bangku perkuliahan selama empat tahun, juga berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Pancar-pancar tawa penuh kebahagiaan terlukis dengan sempurna di wajah elok si gadis berbalut topi dan toga. Kedua tangannya sudah penuh. Penuh akan hadiah-hadiah dari teman-teman sejawat, seangkatan, atau yang berbeda angkatan, juga dari saudara-saudara jauh yang datang dengan hati gembira ria.

Peluk demi peluk, dekap demi dekap, tak lupa pula kecup demi kecup di dua pipi, ia terima sebagai ungkapan lain dari frasa selamat. Relung hatinya menghangat, seiring terlepasnya satu beban selama empat tahun, seiring dengan sambutan-sambutan antusias para kerabat.

Si gadis menerawang ke sekeliling. Ia dapati teman-teman seangkatan, baik sejurusan atau berbeda jurusan, juga mendapatkan kebahagiaan yang sama dengannya dalam balutan topi dan toga. Ia pun tak pernah mengira, bahwa hari ini akhirnya tiba.

Hari di mana ia menjadi seorang sarjana.

Sekali lagi, senyum lebar dengan sirat kebahagiaan tanpa tara, terpeta rapi di wajah manis si gadis.

Kemudian, salah seorang teman dari jauh, mendekatinya, juga dengan kegembiraan yang sama.

“Mana kekasihmu itu? Tidak datang di acara pentingmu ini?” Si teman menyahut, sembari merangkul bahu si gadis, sementara kepalanya melongok ke kanan dan ke kiri.

Gadis itu mengernyit. “Kekasih?”

Temannya menahan tawa geli. “Deidara, Deidara. Kekasihmu yang maniak seni itu. Dia tidak datang?”

Hanya butuh waktu tak sampai satu detik, untuk seluruh cahaya sirna seketika di wajah si gadis. Sinar-sinar pada matanya yang bening, tampak meredup.

“Ah, mana aku peduli dengan si bodoh satu itu.”

“Ooh? Sedang bertengkar?” Temannya menyikut si gadis, dengan intonasi menggoda.

Gadis itu buang muka. “Mana kutahu. Maniak sepertinya mungkin punya acara sendiri makanya dia tidak datang, atau dia sedang sibuk dengan eksperimennya lagi.”

Si teman menepuk bahu sang gadis. “Astaga, Dear, bisa-bisanya kau bertahan dengan lelaki seperti itu.”

“Aku tidak mau membicarakannya sekarang. Kembalikan kebahagiaanku yang barusan itu.” Gadis itu berdecak, melemparkan kekesalannya pada kerikil terdekat di kaki.

Temannya terkekeh. “Baiklah, baiklah. Omong-omong,”

“Apa?”

“Angkatanmu yang wisuda hari ini ada 99 orang, ya, kalau aku tidak salah?”

Si gadis mengangguk. “Iya. Kenapa?”

Temannya menggeleng. “Tidak ada. Rasanya tanggung saja, sih. Satu lagi akan seratus.”

Tawa si gadis mengudara. “Ah, benar juga. Seharusnya ada satu lagi jadi genap seratus, ya. Dengan itu, pasti akan menambahkan nilai plus untuk universitas ini juga.”

Kali ini, temannya mengangguk, kemudian tidak memrotes apa-apa lagi, selain tetap merangkul si gadis.

Gadis itu melirik sedikit pada arloji di pergelangan tangan. Jarum kecil di sana sudah menunjukkan pukul empat sore, membuat ia menghela napas.

Temannya itu hanya merusak suasana saja. Seharusnya ia tak perlu menanyakan Deidara di hari pentingnya seperti ini.

Menyebalkan.

Si gadis mengeratkan dekapan pada hadiah-hadiah bunga serta boneka yang ia terima, lalu melepaskan diri dari rangkulan sang teman.

“Ada apa?”

“Aku mau pergi dulu.”

“Astaga, cepat sekali. Mau kembali?”

Si gadis menggeleng. “Aku mau ke tempat Deidara.”

Temannya menyeringai jahil. “Bukankah kalian sedang bertengkar?”

Gadis itu mengerucutkan bibir. “Well, mau kulempar bunga-bunga ini ke wajahnya.”

“Karena ia tidak datang?”

Si gadis mendengus. “Memangnya apa lagi, hah?”

Temannya kembali tertawa. “Oke, oke. Pergilah. Sampaikan salamku padanya, ya. Pesan dariku, jangan jadi brengsek yang tidak datang ke acara wisuda si kekasih hati.”

Gadis itu menjulurkan lidah, kemudian ikut tertawa setelahnya.

Ia tak habis pikir. Perempuan itu bukanlah teman dekatnya, apalagi sahabatnya. Ia hanya teman jauh, yang berbeda universitas, dan tak tahu banyak hal tentangnya. Namun rasanya, perempuan itu akrab sekali.

Mungkin ia harus berhenti menjadi gadis tak acuh, ya,

atau perempuan itu hanya sekadar basa-basi saja. Entahlah. Tidak penting. Lebih lagi, ia tidak tahu banyak soal Deidara. Yang ia tahu hanyalah Deidara sebagai kekasih si gadis, kemudian menggempurnya dengan pertanyaan-pertanyaan klasik yang sering dilontarkan pada sepasang kekasih.

Kebanyakan orang hanya merasa penasaran belaka tanpa peduli lebih lanjut.

Maka si gadis menyimpulkan bahwa perempuan itu hanya sekadar basa-basi agar tak tampak canggung di sini.

Walau ingin sekali si gadis mengujar sinis, ia tak butuh basa-basi begitu.

Tetapi, setidaknya, hargai sajalah, usaha perempuan itu, ‘kan?

“Aku duluan, ya! Terima kasih sudah datang!”

Gadis itu beranjak pergi, sembari tertawa dengan lambaian tangan beberapa kali. Teman serta kerabatnya melakukan hal yang sama, beberapa di antaranya kembali menyempatkan diri untuk sekadar memeluk si gadis sarjana.

Sekali lagi, si gadis mengutuk sang teman jauh yang menanyakan Deidara padanya hari ini.

*
*

Si gadis berhasil tiba di kediaman Deidara, hanya untuk mendapati lelaki itu tengah tertidur.

Gadis itu berdecak satu kali, sembari mendekap erat semua hadiah dengan sebelah tangan—

“Deidara! Bangun! Hei!”

—dan tangannya yang lain ia gunakan untuk menepuk kepala lelaki itu dengan tabung gulungan ijazah.

Namun, Deidara bergeming.

Ia letakkan sebagian hadiah di bawah; beberapa boneka saja yang memenuhi pegangan karena ukurannya yang besar, kemudian menghela napas.

Bagaimana caranya membangunkan batu, sih?

Ah, persetan. Gadis itu tidak peduli. Nanti juga ia bangun sendiri.

Si gadis memandangi Deidara, sembari menimang-nimang tabung ijazah di tangan. “Aku wisuda hari ini, dan kau seenaknya malah tidur, ya.” Ia mengujar, sembari terkekeh kecil.

“Memangnya kau ngapain, sih? Kelelahan sekali dengan eksperimen-eksperimenmu sampai tertidur begini, ha?” Iris bening gadis itu terus memandangi Deidara, tak sedikit pun ingin ia alihkan atensi dari si lelaki pencuri hati.

Si gadis mengambil sebuah buket bunga, kemudian menimang-nimangnya. “Kalau kau datang, koleksi buket bungaku harusnya bertambah satu, ‘kan? Dan pasti akan jadi yang paling unik, karena kau akan membuat buket bunga dari tanah liatmu.” Gadis itu tersenyum kecil.

“Eh tapi bagus juga, sih, kau tidak datang, ya. Buket bunga darimu pasti berat sekali, ‘kan. Mana sanggup aku membawanya terus-terusan.”

Kemudian, tawa si gadis mengudara, beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali diam, kembali meresapi sunyi serta sepi yang menerjang. Matanya masih terus memandangi Deidara yang tengah tertidur, meski lelaki itu mungkin tidak mendengar ujaran-ujaran bahagia si gadis.

Bicara kok sama batu, sih?

Maka akhirnya, si gadis manyun sembari menggembungkan pipi—

“Aaah! Deidara payah! Ayo, bangun! Dasar batu!”

—sementara tangannya ia gunakan untuk melemparkan semua buket bunga yang ia pegang pada Deidara.

Namun sekali lagi, lelaki itu tetap bergeming.

Kedua tangan gadis itu terkepal erat, sangat erat hingga buku-buku jemarinya tampak memutih. Ia menggigiti bibir, entah karena kesal atau marah atau sakit. Ia tarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia hela lagi. Terus ia lakukan beberapa kali, sembari berharap perasaannya bisa tenang kembali.

Tetapi, tidak.

Hatinya sama sekali tak tenang, apalagi bahagia.

Sekali lagi, ia pandangi si lelaki pirang tambatan hati. Bibirnya mengulum senyum simpul. Ia lepas topi toga yang ia kenakan—

“Payah. Kau tidak bisa bangun lagi, ya, Deidara?”

—kemudian ia pakaikan topi toga itu di atas batu nisan si kekasih hati bersamaan dengan mengalirnya bulir-bulir bening dari mata si gadis; tumpah-ruah seolah tak ingin berhenti.

Ia mendongak satu kali, hanya untuk mendapati langit kelabu ikut menemani.

Seluruh senyum dan cahaya gadis itu lenyap, digantikan oleh sedu-sedu tanpa jeda. Ia dekap tubuhnya erat-erat, kemudian tertunduk dengan badan yang berguncang hebat. Gigi-giginya saling bergemeletuk, sedang mencoba untuk tak terisak lebih lanjut.

Ah, gagal.

Pada akhirnya, si gadis meraung, kemudian jatuh berlutut dan memekik pilu dengan derasnya air mata, tak peduli tanah-tanah yang masih basah mengotori toga yang ia kenakan.

Menangisi Deidara yang tak akan pernah bangun lagi di kediaman terakhir, apalagi untuk mengetahui semua ujaran-ujaran bahagia si gadis.

Segera setelahnya, rerintikan lembut dari sang langit menyadarkan si gadis yang tengah terkikis. Ia mendongak sekali lagi, untuk membiarkan gerimis-gerimis menghantam parasnya yang elok; berterima kasih di dalam hati atas sang hujan yang menyapu kembali air mata.

Ia sentuh keramik hitam yang mengelilingi pusara lelaki itu, yang mulai basah oleh hujan.

“… Deidara.”

Akhirnya gadis itu berhasil, untuk menyebutkan nama si lelaki pujaan hati dengan serak-serak tak bertepi, setelah menelan bongkah-bongkah pahit penuh duri yang terus tersangkut di kerongkongan.

“Hari ini,” si gadis memulai konversasi lagi. “Jumlah wisudawan angkatan kita adalah 99 orang, kalau kau tidak tahu—seharusnya kautahu, sih.” Gadis itu menarik napas.

“Genap seratus jika ditambah denganmu, Deidara.”

Gerimis-gerimis yang jatuh, mulai terasa lebih banyak kuantitasnya.

“Tetapi kau tidak datang, ya. Orang bodoh mana, sih, yang mati sehari sebelum acara wisudanya sendiri? Padahal kau adalah salah satu dari lulusan terbaik.”

Gadis itu tertawa kecil, meski semesta tahu tawa itu mengandung pahit dan getir yang infiniti.

“Kau pasti akan dengan pongahnya meneriakkan ‘seni adalah ledakan’ selantang mungkin, dengan seringai penuh kemenangan, dengan tatap nyalang biru langit, dengan statusmu sebagai sarjana.”

Tawa kecil si gadis sirna kembali, hanya menyisakan seulas senyum terukir di bibir.

“Padahal seharusnya, Deidara, kita lulus bersama, hari ini, lalu saling bertukar hadiah, tetapi kau malah punya acara sendiri, ya.”

Guyur-guyur sang hujan menghantam semakin deras, mulai membasahi seluruh tubuh si gadis, serta toga yang kuyup. Juga sang hati yang tergerus-gerus.

Hari ini, seharusnya, merupakan satu hari yang penuh akan kebahagiaan. Ia dan Deidara adalah lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari jurusan masing-masing. Si gadis menjadi seorang sarjana sastra, sementara Deidara menjadi seorang sarjana seni.

Akan menjadi seorang sarjana seni,

kalau saja lelaki itu tidak tewas dalam kecelakaan satu hari sebelum acara wisuda dihelat.

Membuat Deidara akhirnya punya acara sendiri, dengan dirinya sebagai pemilik acara.

Acara pemakaman yang digelar hari ini. Hari yang sama dengan acara wisuda yang seharusnya ia hadiri dengan ingar-bingar kegembiraan.

Pemakaman sudah sepi ketika si gadis tiba tadi. Ia hanya berpapasan dengan beberapa orang terakhir sebelum sampai di pusara tujuan.

Tapi tak apa.

Dengan begitu, ia bisa berdua saja bersama Deidara tanpa ada yang mengusik, ‘kan?

Mendatangi dua acara di satu hari yang sama, bukan merupakan hal yang sering terjadi. Apalagi ketika dua acara tersebut adalah dua hal yang saling berkontradiksi.

Acara wisuda yang penuh dengan kebahagiaan, dan acara pemakaman yang penuh dengan kepahitan.

Sekali lagi, gadis itu tersenyum, di antara dingin-dingin yang menusuk hingga ke tulang, di antara gigil-gigil yang terus mengguncang, di antara dekap-dekap belati yang terus menerjang.

“Deidara bodoh. Jangan lupa kembalikan topi togaku … ya.”

Kemudian membiarkan suara parau yang sarat akan sakit-sakit, lesap di antara derasnya tangisan langit.

Derasnya hantaman butir-butir hujan yang tak juga berhasil menyembunyikan air mata si gadis,

serta raung-raung pilu dari sang hati yang telah hancur lebur menjadi keping-keping luka dan perih.


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

fiksi ini ditulis sembari mendengarkan instrumen saksofon dari soundtrack film Titanic, My Heart Will Go On 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s