Fiction/Fiksi

#NovemberRomance Event: Day 29 – i know you not only two days

Sang langit sudah menangis sejak tadi pagi, pada pukul delapan, untuk hari ini. Derasnya bulir-bulir sang hujan menghantam tiap-tiap atap rumah, kemudian menciptakan melodi menenangkan untuk beberapa insan.

Termasuk si gadis.

Hujan sudah mengguyur kotanya sejak satu minggu yang lalu; paling hanya berhenti beberapa saat di hari-hari tertentu. Hujan merupakan salah satu hal favorit si gadis. Adalah sebuah kesempurnaan abadi ketika hujan tiba, lalu bergumul di dalam selimut, dengan secangkir cokelat panas, serta beberapa buku untuk dihabiskan tiap-tiap babnya.

Juga dengan uaran aroma petrichor dari jendela dua pintu yang sengaja dibuka, sembari ditemani dengan bunyi-bunyi gemirisik tiap-tiap rerintikan hujan.

Sempurna sekali.

Apa yang gadis itu lakukan sepanjang hari ini adalah berdiam diri di kamar, dengan sederet kenikmatan yang ia sebut sebagai kesempurnaan abadi, hampir menghabiskan waktu hingga sore hari berakhir,

kalau saja isi kepalanya tidak dipenuhi oleh si terkasih yang tidak kembali sejak tadi pagi.

Deidara pergi sebelum pukul tujuh, sebelum hujan turun, tanpa pamit, apalagi untuk repot-repot menghabiskan roti panggang di atas meja sebagai menu sarapan.

Si gadis menyadari kepergian lelaki itu ketika ranjang di sebelahnya terasa kosong, ketika seisi rumah terasa sunyi.

Biasanya, setidaknya satu kali dalam satu pagi, gadis itu akan mendengar bunyi ledakan yang cukup menggelegar dari halaman belakang rumah. Dengan itu, si gadis bisa tahu di mana keberadaan Deidara.

Bahkan ia tak mendengar satu kali pun suara kucing yang kerap mengeong keras tiap kali melihat Deidara.

Terkadang gadis itu bertanya-tanya, apakah kucing jingga kesayangannya memang tidak suka dengan lelaki itu, atau justru sebaliknya.

Intinya, ia menyadari kepergian Deidara karena dua hal klasik tersebut.

Maka ketika si gadis akan menghabiskan bab terakhir sebuah novel romansa, dua paragraf pada bab tersebut menyebutkan sesosok lelaki bermata biru sedang menantang sebuah senja dalam hujan,

hingga akhirnya si gadis teringat akan sang waktu yang telah bergulir sangat lama, dan sang lelaki tambatan hati yang tak kembali jua.

Iris bening gadis itu melirik sedikit pada jam dinding di atas meja rias; jarumnya sudah menunjukkan waktu sore hari.

Waktu senja, dalam hujan.

Si gadis menghela napas, untuk kemudian mengambil selembar kertas paling dekat (foto Deidara di atas nakas), lalu ia selipkan di antara halaman terakhir yang ia baca; menjadikannya pembatas buku.

Ia sesap sisa-sisa cokelat panas di dalam cangkir yang sudah hampir dingin seluruhnya, kemudian keluar dari balutan selimut tebal dengan sedikit tidak rela.

Ia tahu Deidara bukanlah anak kecil yang tak pulang-pulang dari bermain hingga sore hari. Tetapi, yah … apa boleh buat.

Tetap saja si gadis beranjak dari ranjang, mengambil sepotong jubah tebal, dan sebuah payung,

lalu keluar dari rumah untuk mencari Deidara.

Pernah dengar pepatah yang sering mengatakan bahwa laki-laki terkadang seperti anak kecil?

Mungkin, hari ini, Deidara adalah salah satunya.

*
*

Butuh waktu hampir satu jam lamanya untuk si gadis mengelilingi beberapa tempat di kota yang ia yakini akan didatangi oleh Deidara, sebelum akhirnya gadis itu tiba di pinggir sebuah lapangan luas; lapangan ini sering digunakan oleh anak-anak untuk bermain ketika mentari sedang tersenyum lebar.

Sebidang tanah lapangan luas, dan sesosok lelaki berdiri di tengahnya.

Deidara ada di sana, tengah berdiri, tegap, sembari mendongak pada langit kelabu, dan membiarkan bulir-bulir derasnya sang hujan menghantam wajah serta tubuhnya.

Sekali lagi, si gadis teringat akan sebait larik di dalam novel romansa; lelaki bermata biru sedang menantang senja dalam hujan.

Kemudian, gadis itu tersenyum kecil, lalu memijak di lapangan, tanpa repot-repot untuk menghindari genangan-genangan air yang lebih banyak.

Menghampiri lelaki itu.

“Deidara.”

Lalu memayunginya, melindungi lelaki itu dari hunjam-hunjam ganas tangisan langit, memblokir pandangan lelaki itu pada horizon abu-abu.

Deidara menoleh, hanya menoleh, tanpa berkata apa-apa.

Si gadis masih mengulum senyum kecil. “Sudah berapa lama kau berdiri di sini?”

Kemudian, ia pandangi lelaki itu secara menyeluruh. Beberapa butir air hujan menetes tak teratur dari helai-helai pirang panjangnya yang kuyup. Mantel gelap yang lelaki itu kenakan, tak ubahnya seperti kain kusut yang teronggok berminggu-minggu; berkerut-kerut, kuyup juga. Tubuh lelaki itu dingin, karena terlalu banyak menerima guyur-guyur hujan tak berjeda-jeda; ada kepul-kepul uap putih yang terlihat.

Normalnya, si gadis akan tertawa, atau memberi ejek-ejek pada lelaki yang bermain hujan itu seperti anak kecil, kalau saja ia tak menyadari satu tatapan dari iris biru langit Deidara.

Tatapan kosong yang berhasil membuat gadis itu terenyak dalam bisu, dengan senyum yang sirna dalam sekejap dari bibir.

“… Deidara?”

Si gadis maju satu langkah, setengah berniat agar payung mampu melindungi mereka berdua dari hujan secara utuh, setengah lagi agar ia bisa menaut mata lelaki itu lebih lekat.

Dan Deidara, tetap bergeming.

“Hei, kau kenapa?” Ia tepuk lembut pipi dingin lelaki itu.

Namun sekali lagi, Deidara tetap, bergeming.

Ayolah, ia tak sedang berbicara dengan patung, ‘kan?

Maka kali ini, gadis itu diam. Ia tatap kembali mata kosong lelaki itu, mencoba untuk mencari pada hamparan langit yang berkabut itu, berharap ia berhasil menemukan sesuatu di dalam mata itu.

Agar setidaknya, si gadis bisa mengetahui, apa yang menyebabkan seorang Deidara menjadi seperti ini.

Ah, nihil.

Kabut di dalam mata lelaki itu terlalu tebal, sulit bagi si gadis untuk menembusnya, tanpa bantuan cahaya-cahaya nyata.

Ia butuh cahaya, agar biru pada mata Deidara kembali terlukis.

Maka, si gadis menerawang ke belakang, ke waktu-waktu terdahulu, berharap sekali lagi ia bisa menemukan sesuatu.

Kapan, kapan terakhir kali ia lihat Deidara ‘mati’ seperti ini? Tidak, tidak ada, tidak pernah.

Ini yang pertama.

Ia tak pernah melihat Deidara sehancur ini.

Satu, satu yang berhasil gadis itu ketahui. Bahwa lelaki itu sudah mencapai batas kulminasinya, hari ini.

Karena Deidara, terbiasa memendam segala sesuatunya sendiri.

Mungkin, mungkin lelaki itu lelah. Hari ini, ia lelah. Untuk selalu bersikap penuh percaya diri, untuk selalu bersikap tak peduli, untuk selalu bersikap semuanya tetap baik dan statis.

Mungkin, hari ini, sekali saja, ia ingin jujur pada dunia, atau setidaknya, pada semesta senja di bawah guyur-guyur sang hujan, bahwa ia bisa rapuh, ia bisa terpuruk, ia bisa sakit, ia juga bisa terluka, seperti orang-orang lain.

Ia masih manusia biasa.

Deidara masih manusia biasa.

Ia masih punya perasaan.

Gemuruh membahana dari langit kelabu, berhasil menyentakkan si gadis kembali dari lamun-lamun sendu tentang lelaki itu.

Tiba-tiba, ia rindu, rindu pada senyum tak simetris yang sering Deidara uarkan, atau seringai pongah yang sering lelaki itu pamerkan, atau kerlingan jahil yang sering lelaki itu berikan, atau ujar-ujar seni yang sering lelaki itu utarakan.

Ia rindu.

Pada Deidara.

Langitnya yang berkabut, hari ini.

Akhirnya, si gadis berhasil mengukir senyum sekali lagi, pada satu spekulasi pasti di dalam kelebatan benak.

“Jadi, Deidara,” gadis itu menginisiasi konversasi, tetap statis menaut iris langit. “Siapa saja yang sudah menghina senimu?” Ia bertanya, sembari bersikukuh agar suaranya mengalahkan bunyi keras runtuhan hujan.

Ada sepercik kilat berpendar pudar pada mata lelaki itu. “… Bagaimana kau … bisa tahu?”

Sudah ditemukan.

“Aku mengenalmu bukan kemarin sore, Deidara.” Ada kekehan kecil manis yang terselip. “Memangnya, apa lagi yang bisa membuatmu terpuruk seperti ini selain seni, sih?”

Sudah gadis itu temukan. Cahaya yang ia butuhkan. Untuk melukis kembali biru tanpa kabut pada mata Deidara.

Seulas senyum berhasil tercetak di bibir lelaki itu. “Hehe.”

Untuk pertama kalinya, hari ini, ia bisa melihat kembali ulasan senyum yang ia rindui.

Si gadis mengeratkan pegangan pada payung yang mulai ditiup angin. Ia menggigil sedikit.

“Aku tidak tahu hinaan macam apa yang diberikan pada senimu. Tapi,”

Tidak, tak akan ia tanyakan. Ia tak mau tahu, juga tak ingin memperbesar luka lelaki itu hari ini, sebab diungkit lagi frasa-frasa hinaan.

“Punyamu yang terbaik, pada komposisinya masing-masing. Karena benak entitas awam, tak akan mampu memahami karya dengan nilai yang tinggi.”

Ia tuntaskan ujar-ujarnya, sembari berharap pada kata-kata tersebut, untuk setidaknya, bisa membantu menutupi luka.

Sekali lagi, sebuah senyum tak simetris terpeta rapi di wajah tampan Deidara. Ia tidak berkata apa-apa.

Namun senyum tersebut, sudah cukup untuk si gadis mengetahui bahwa ujarannya berhasil mengobati lelaki itu, setidaknya, sedikit.

Tidak banyak yang bisa memahami Deidara secara komprehensif, apalagi dengan sudut pandang unik yang lelaki itu miliki, terutama terhadap seni. Kebanyakan orang lebih memilih untuk tak peduli, atau mencibir sekalian.

Lelaki itu aneh, dengan sudut pandangnya yang berbeda dari insan lain.

Dan si gadis adalah satu dari sedikit entitas di muka bumi yang berhasil masuk, untuk memahami lelaki itu secara menyeluruh.

Untuk selalu berada di sisinya.

Angin bertiup lagi, lebih kencang, memberitahu seluruh alam untuk segera beranjak menjauh, sebab sang hujan akan tiba lebih ramai lagi dari ini.

Gadis itu kembali memandangi Deidara. “Ayo, pulang.”

Ia sentuh bahu bidang lelaki itu, kemudian menanggalkan mantel kuyup dari badannya yang semakin dingin.

“Aku tidak mau kau jadi sakit karena hujan-hujanan begini.”

Lalu ia sampirkan jubah tebal yang ia bawa sejak tadi, hingga menyelimuti seluruh tubuh lelaki itu; setidaknya, menghangatkan tubuh yang juga kuyup.

Deidara menyeringai. “Heh.”

Gadis itu melirik dengan tajam. “Apa?!”

“Segitunya mencintaiku, ya, hm?”

Gadis itu diam sejenak. “Tidak sama sekali, ya, Deidara.”

“Denial.” Seringai angkuh masih Deidara pertahankan.

Si gadis mendelik dengan sinis. “Hilang ke mana Deidara yang barusan mati segan hidup tak mau itu, hah?”

Tawa lelaki itu mengudara, bersaing dengan bunyi sang hujan yang semakin deras.

Kemudian, si gadis mengulum senyum simpul.

Lelaki itu sudah kembali seperti semula. Ia tak perlu lagi melihat kabut tebal pada iris langit Deidara. Ia tak perlu lagi mencari cahaya untuk menembus kabut tebal demi melukiskan biru seperti sedia kala.

Cukup.

Cukup langit milik alam semesta saja yang berkabut dan kelabu.

Langit miliknya, jangan.


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s