Fiction/Fiksi

#SoulscapeDecember2017 Event: Day 12 – arrested

warning: explicit adult scene.


“We meet again, eh?”

Suara bariton itu menyentakku dari lamunan pekerjaan yang menggempur dengan sangat dahsyat.

“This will be the last time for you to escape.” Aku mengujar dengan intonasi tajam, sesekali berharap intonasi ini bisa membunuhnya sekalian, sembari terduduk lelah di sebuah ranjang king size dengan seprei abu-abu.

Sebagai bagian dari aparatur negara, menangkap berbagai macam jenis kriminal merupakan makanan sehari-hariku. Dan aku tak pernah kesulitan menangkapi tiap-tiap buronan yang berada dalam Daftar Pencarian Orang.

Tetapi Reitokaze Deidara adalah pengecualian.

Aku sudah menghabiskan waktu satu tahun lamanya hanya untuk mencoba menangkap kriminal kelas kakap yang satu ini, dan semuanya mulai terasa sangat memuakkan. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar jika hanya untuk bermain kucing-kucingan antara aparatur keamanan dan kriminal kelas kakap.

Aku mulai lelah dengan semua tetek-bengek negara ini. Pun dengan sang atasan yang selalu menugaskanku untuk menangkap seorang Reitokaze Deidara.

Kriminal kelas atas yang menjadi dalang utama penyerangan reaktor nuklir di Fukushima, pembangkit listrik utama Jepang, yang mengakibatkan ribuan korban jiwa tak terelakkan.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa harus aku yang ditugaskan untuk menangkapnya. Seakan di dalam divisiku, hanya aku saja yang bisa menangkapi buronan. Maksudku, ada banyak rekan-rekan lain yang bisa saja menangkap Deidara.

Penggerutuan infiniti yang kulakukan memang tak bisa dipungkiri lagi.

Aku benar-benar sudah muak dengan semua ini.

Aku tak mau disalahkan dan mendapat predikat sebagai agen gagal, namun aku tak bisa membantah bahwa Reitokaze Deidara terlalu ahli dalam melarikan diri. Tak ada kriminal yang berhasil lolos dariku.

Namun, ia lolos berkali-kali dari jeratanku.

Ini adalah hari terakhir dalam bulan kedua belas setelah hari-hari sebelumnya selalu dipenuhi dengan permainan kucing-kucingan yang selalu didominasi oleh Deidara.

Terlepas dari perintah negara, Reitokaze Deidara memang merupakan kriminal ‘berbahaya’.

Untukku.

Sebagai seorang kriminal, ia terlalu tampan dengan helai pirang panjang yang memesona itu. Ia memiliki pesona yang sanggup meleburkan seluruh afeksi. Berulang kali aku mengingatkan diri, bahwa presensinya tak lebih dari sebuah kegalatan tak berarti.

Agar aku tak terjatuh ke dalam pikatnya lebih jauh lagi dari ini.

Situs permainan hari ini adalah apartemen Deidara. Aku berhasil mendapati lelaki pirang brengsek itu sebelum ia menghilang dari kediamannya. Mengadu butir-butir peluru sudah kami lakukan satu jam yang lalu, untuk kemudian mengakibatkan beberapa kerusakan pada tiga hingga empat furnitur serta lukisan-lukisan pada dinding.

Setelah merasa semakin muak serta jenuh, aku melemparkan pistol ke sembarang tempat, lalu mengempaskan diri pada ranjang ini. Melamun dan meratapi pekerjaan adalah hal selanjutnya yang kulakukan setelah mengenyakkan diri.

“We meet again, eh?”

Sampai suara bariton itu membuyarkan lamunanku.

Aku mengalihkan atensi pada si pemilik suara. Deidara berdiri tak jauh dariku, masih dengan sebuah pistol hitam yang ia putar-putar pada jari telunjuk.

Aku berdecak kesal. “Yeah, again.”

Mendengar respons yang kuberikan, Deidara mengukirkan sebuah senyum miring (favorit). “This time, in my territory? You chose a brilliant place ever, Dear.”

“What can I do, then? I’m not going to let you escape anymore.”

Aku memutar bola mata, kemudian mulai menelisik sosoknya. Ia berdiri dengan postur tubuh yang cukup mengesalkan; keangkuhan yang nyata itu sama sekali tak berniat untuk setidaknya ia sembunyikan walau sedikit.

Namun, aku tak mampu untuk menampik. Pesonanya semakin kuat dengan mantel hitam selutut serta jeans berwarna senada itu membalut tubuhnya dengan penuh perfeksi. Pun dengan t-shirt krem yang ia kenakan di balik mantel tak terkancing itu.

“I never escape.” Deidara menyeringai. “You let me to do so.”

Aku mendecih, merasa kesal namun tak bisa membalas ujar; aku kehabisan kata-kata.

Secara tak langsung, ucapannya memang benar. Ia tidak melarikan diri, tetapi akulah yang membiarkannya pergi.

Kelengahanku yang membiarkan ia melarikan diri.

Namun, kembali pada pasal awal, aku tak mau disalahkan. Reitokaze Deidara memang ahli dalam melarikan diri.

Kali ini, aku menghela napas. “Deidara.” Aku memanggilnya, dengan nada serak, dan lelah.

“Yeah?” Ia masih memainkan pistol.

“I’m tired. I’m bored. How about you giving up and let me bring you to the police?”

Sebuah tawa mengejek terdengar mengudara di sekitarku. “Are you really asking that stupid question?

Aku melemparkan tatapan membunuh padanya, namun tak berkata apa pun lagi.

Deidara menyimpan kembali pistol yang tengah ia mainkan sejak tadi. “Come on, Sweetheart, catch me. Where is the persistent of you that I know always trying to imprison me?” Bibirnya mengukirkan satu senyum tak simetris yang begitu memikat.

Sial.

Aku tak sudi jika sampai jatuh hati pada sesosok kriminal. Mau dibawa ke mana statusku sebagai aparatur keamanan negara?

“Shut up.” Aku mengumpat, dan hanya mengakibatkan tawa mengejek Deidara menyambangi pendengaranku dengan lebih keras lagi.

“If you kept sitting there just staring at me, I’m off. I have a million job waiting for me to finish.”

Aku mendengus. “A million job? You will just blow everything up.”

“Sure, Babe. That is my job.” Deidara kembali menyeringai.

Kadang aku bertanya-tanya. Tidakkah ia merasa lelah karena terlalu sering menyeringai?

Aku mengacuhkan Deidara sejenak hanya untuk memperhatikan jarum jam pada dinding yang telah menunjukkan angka sebelas.

Sekarang sudah pukul sebelas malam. Waktu di mana seharusnya aku tengah menikmati air hangat dan bersiap untuk tidur.

Bukannya malah terjebak dengan seorang kriminal di apartemen seperti ini.

Hal tolol ini harus diselesaikan dengan segera.

“Hey.”

“Hmm?”

Aku menepuk-nepuk ranjang di sebelahku. “How about you sitting next to me? Instead of keep standing there and insulting me like a prick.”

Manik biru langit Deidara tampak mengilat, memancarkan ketertarikan. “Already run out of strategy, eh? Inviting me to sit next to you. Wanna catch me directly?” Ia tersenyum lagi, kali ini dengan kesinisan.

Namun, ia tetap melangkah mendekatiku.

Membuatku berhasil untuk mengulum sebuah senyum kecil. Aku tidak kehabisan strategi. Ada cara yang ingin kucoba untuk langsung menangkapnya. Karena itulah aku melemparkan pistolku jauh-jauh setelah saling menggempur dengan peluru.

Itu hanyalah satu trik untuk membuatnya yakin bahwa aku tak punya apa-apa lagi untuk menyerangnya sehingga ia akan mendekatiku seperti ini.

Deidara mendudukkan diri tepat di sebelahku. “So, tell me. What strategy do you have up your sleeve to imprison me, hm?” Ia berbalik, kemudian iris langit itu menatapku lekat-lekat

Napasku tercekat sejenak menyadari posisinya yang sangat dekat denganku. Uaran aroma parfum yang menyatu dengan tubuhnya, seolah mulai memabukkan kinerja sarafku. Banyaknya dentaman yang muncul di dalam rongga dada, berhasil mengagetkanku secara personal.

Jangan bercanda. Aku tak mungkin merasakan hal seperti itu pada kriminal.

“I made a best friend bracelet.” Hanya itu yang bisa aku lontarkan dari bibir, sembari mengutuk sanubari yang terus menabuh talu.

Deidara menaikkan sebelah alis. “A best friend bracelet?”

“Yup.”

“You’re gonna catch me with a bracelet?”

“What do you expect, then?” Aku memicingkan mata padanya.

Deidara mendekatkan wajahnya padaku. “Something more … dangerous, maybe?” Ia berbisik pelan, membiarkan embusan napasnya meniup telingaku.

Aku mematung sesaat, merasakan desiran di sekujur tubuh, sebelum akhirnya berhasil mengendalikan diri.

“Stay away from me, Deidara.”

“You are the one that asking me to sit next to you.” Ia memutar bola matanya.

Mendecih adalah satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini.

“Shut it up. I made a best friend bracelet.” Aku merepetisi kalimat dengan intonasi yang lebih dalam. “Give me your hand.”

“So, you consider me as a best friend? Not too bad.” Deidara mengujar dengan seringai tipis, kemudian mengulurkan tangan kirinya padaku.

Menangkup cepat tangannya, aku memasangkan sebelah borgol dengan gerakan kilat. Sisanya sudah kupasangkan pada tangan kananku lebih dulu.

“Reitokaze Deidara, you are under arrest with the accusation of exploding the nuclear reactor.” Aku mengujar dengan penuh kepastian sembari menodongkan sebilah pisau di lehernya.

Aku sempat melihat percik kekagetan luar biasa pada sorot mata biru itu, sebelum akhirnya menghilang dalam dua detik.

“Nah, you are not gonna arrest me, Babe,” Deidara menyeringai. “I am arresting for you.” Iris biru langitnya memandangiku dengan intens.

Aku terpaku sejenak pada tatapan pelebur afeksi itu, sebelum akhirnya menyadari bahwa ia telah melempar jauh-jauh pisau yang kutodongkan padanya.

“… Fuck you.” Aku mengumpat, mengutuki kebodohanku yang malah terpaku pada manik birunya.

“You, want me to fuck you, hm?” Deidara tetap mempertahankan seringai yang seakan tak pernah mau meninggalkan wajah manisnya—

Brengsek. Dari mana aku bisa menyebut wajah itu manis? He is an asshole, Dear, do not ever forget it.

Aku mendelik dengan tajam. “That is not what I mean— shit. I hate you, Deidara.”

“You hate me?” Ia menggerakkan satu tangannya yang bebas, menggenggam erat bahu kiriku.

“What are you do— Kyaa!”

BRUK!

Aku tak sempat mencerna apa yang terjadi, begitu aku menyadari bahwa ia telah mendorongku hingga telentang di atas ranjang. Ia menahan tubuhnya tepat di atasku, membuat poni pirang panjangnya jatuh menjuntai sehingga aku bisa menatap langsung kedua mata birunya.

Ada sesuatu yang tampak lapar di dalam mata itu yang berhasil membuatku merinding … namun berdebar-debar digelitik oleh rasa ingin tahu.

Deidara melemparkan senyum penuh ejek. “Do you really wanna catch me with … this?” Ia mengangkat tangan kirinya yang kini telah terborgol dengan sebelah tanganku.

Aku tercekat. “Yes, I was—”

“Or … do you just want to … attract me, hm?” Ia menyeringai.

Aku menggeram. “Fuck you.”

“How about you stop saying ‘fuck you’, Babe? It’s like you really want me to fuck you … hard.” Dengan ibu jarinya, ia mengusap lembut bibir bawahku; mengirimkan getaran magis yang tiba tanpa permisi.

Mendecih satu kali, aku menatap sinis padanya, menusuk dua iris langit itu dengan sorot tertajam yang pernah kukeluarkan.

Namun, Deidara justru membalas sorot tajamku dengan tatapan yang penuh akan afeksi; serta seduktif yang terselip tak sedikit. “Let me prove you something, Honey.”

“What?!” Aku membentak, kesal. “I should’ve known you really are a jerk and an asshole! You mother fucke— Hey!” Aku memprotes saat ia mengambil tangan kiriku, kemudian membawanya tepat di atas kepalaku.

Deidara menarik satu sudut bibirnya. “Shh. A beautiful lady should not have said such a curse word.” Ia mengusap bibirku, lagi.

“Let go of me, Deidara.” Aku mengujar dengan nada dingin, padanya yang tengah menahan tangan kiriku menggunakan satu tangannya yang terborgol dengan tangan kananku, menyebabkan kedua tanganku kini berada di atas kepalaku sendiri.

Membuat pertahananku melonggar sebagian.

Deidara menyeringai penuh kemenangan, mata birunya melirik pada borgol di atas kepalaku. “Babe, I really thank you about these handcuffs.” Kemudian ia merunduk, mendekatkan wajahnya padaku. Lalu berbisik dengan nada sensual. “You did a good job for me to ‘arrest’ you.”

“Fuck yo— Mhh…!”

Umpatanku terhenti, Deidara mengunci bibirku dengan satu pagutan kilat. Ia menciumku dengan gerakan tak beraturan; keagresifan itu begitu jelas, namun berhasil menaikkan rangsanganku. Helai-helai poni pirangnya menyapu sisi wajahku, menyebabkan rasa geli yang semakin menggelitik gairah seksualku.

Aku tak mengerti, namun ia tampak seperti sedang melampiaskan segalanya …

… atau kesalahanku yang membangunkan singa tidur.

Menyadari hal itu, aku meronta dengan menarik kedua tanganku yang ia tahan, mencoba untuk melepaskan diri.

Namun nihil, sama sekali tak membuahkan hasil. Cekalannya terlalu kuat untuk bisa kulawan.

“Ahh….”

Satu desahan berhasil lolos dari mulutku ketika ia menggigit bibir bawahku, kemudian lidahnya melesak masuk lebih dalam, lebih liar, menjelajahi tiap inci rongga mulutku.

Menciptakan debaran jantung yang semakin menggila.

Ingin sekali aku mengutuk, berharap ia tak akan pernah menyadari dentaman-dentaman sialan di dalam dadaku.

Hampir satu menit ia memagut dan melumat bibirku, lalu detik berikutnya ia melepas ciuman penuh gelora ini, kemudian menarik wajahnya menjauh dariku.

Untuk sejenak, aku bisa bernapas lega. Sampai suara seksinya menyerang telingaku.

“You like it, don’t you?” Deidara memetakan sebuah senyum (manis) tak simetris.

Refleks, aku buang muka. “Absolutely no,” sahutku, menghindari pandangannya. Lebih baik aku mati daripada harus mengakui bahwa aku memang menyukainya.

Masih menahan kedua tanganku, Deidara menggerakkan satu tangannya mendekati kancing kemejaku.

Napasku terhenti sejenak. “Don’t. You. Dare. To. Do. That. Deidara.” Aku memberi sekat penekanan pada tiap kata di kalimatku.

Namun, hal itu justru membuat Deidara semakin menyeringai.

“I told you to let me prove you something, Honey.” Ia membuka kancing kemejaku satu per satu, kemudian menarik kemejaku keluar dari jeans hitam pendek yang kukenakan. Ia sibak kemejaku ke kiri dan ke kanan.

Memperlihatkan badan rampingku yang hanya dibalut oleh bra hitam.

Aku menggeram, meronta sekali lagi dengan mencoba untuk menendangnya. Tetapi Deidara menahan kedua kakiku hanya dengan sebelah kakinya.

“Fuck you, Deidara.” Aku mengutuk, lagi.

Dan debaran jantung itu seolah tak ingin berhenti.

Deidara memejamkan kedua netra langitnya sejenak, lalu menghela napas. “Hey, you really have to stop saying ‘fuck you’, Dear. I will just fuck you right now if you really want it.”

Lalu, ia menatapku lamat-lamat.

“And I don’t mind to make you moan so hard, begging pathetically for an orgasm.” Deidara menyeringai, tampak puas.

Membuat dentaman-dentaman itu semakin menguat. Aku mengumpat lagi, sama sekali tak ingin terjatuh dalam pesona langit itu, juga ingin sekali mencekiknya sampai mati. Ia baru saja menghinaku, ‘kan?

Deidara meletakkan satu tangan di belahan dadaku.

“You are not touching it, Deid—”

“I can feel your heart beat, Sugar.” Deidara memberikan seulas senyum angkuh.

“…”

Terdiam adalah satu-satunya hal emas yang mampu kulakukan begitu mengetahui ia telah menyadari debaran jantungku.

Jemari kokohnya turun, menyentuh kulit telanjangku yang hangat, kemudian menari di atas perutku yang rata. Napasku terengah ketika ia usap pinggangku dengan lembut, hingga aku terkesiap oleh sengat-sengat geli yang mulai terasa memabukkan.

Kemudian, tangan kekar itu naik kembali ke atas, memberiku sinyal waspada tingkat tinggi—

“You can’t resist me—”

Deidara menangkup sebelah payudaraku.

“Nah. You will never be able to resist me, Babe.”

Sekali lagi, aku terkesiap. “You know it won’t happe— Ahh…!”

Aku menyentakkan kepala, kemudian menjerit, ketika tangan (terlatihnya) meremas sebelah dadaku, memijat lembut payudaraku dari balik bra, tetapi rasa dominasi itu terasa nyata sekali.

Dengan napas terengah, aku mencoba untuk kembali menatapnya, mencoba untuk melemparkan tatapan yang kuharapkan bisa membunuhnya dalam dua detik. Tetapi apa yang kudapatkan adalah mata biru yang mengelang, dengan kilat-kilat gairah tanpa pretensi.

Deidara tersenyum lebar, menyiratkan rasa menang yang penuh dengan kepongahan; masih dengan sorot mata yang sama. “I know you like it.” Ia mengujar dengan nada sensual, sementara tangan itu mulai menarik bra yang tengah kukenakan hingga payudaraku menyembul keluar.

“I never … say … I like it— Aahh…!”

Aku mendesah lagi, kali ini lebih keras, ketika ia menarik dan memelintir putingku yang mengeras, bergantian. Aku memejamkan mata rapat-rapat, sesekali tersentak dengan sengatan magis atas sentuhan seduktifnya yang begitu mengadiksi, serta erangan-erangan yang selalu terselip keluar dari bibir kecilku. Tarikan-tarikannya pada puncak payudaraku tak pernah gagal untuk membuatku melesakkan kepala, sembari menarik kedua tangan dengan sia-sia.

Ia melakukannya dengan sangat lihai (aku jadi ingin tahu sudah berapa banyak wanita yang pernah ia tiduri), hingga berhasil membuat sekujur tubuhku menegang.

“No need. Your body already told me so.”

Aku terengah, mencoba menahan rangsangan kuat yang menggigiti tiap-tiap inci tubuhku.

“You … bastar— Mhh…!”

Makianku terhenti lagi, dengan Deidara yang menyambar bibirku, lagi. Kali ini, ia melumat bibirku tanpa ampun, membuatku mendongak cepat.

Kemudian, aku mulai merasakan satu sengatan menusuk di bagian bawah.

Satu tangannya memijat dan memelintir puncak payudaraku lagi, hingga punggungku melengkung—

“A-Aahh— Mhh…!”

Ia meredam desahan tak tertahankan yang keluar dari bibirku dengan ciuman liarnya.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, lagi. Deidara melakukan hal yang sama selama hampir satu menit, sebelum ia melepaskan semuanya.

Menyadari ia tak lagi memagutku, aku mencoba untuk membuka mata.

Hanya untuk mendapati Deidara yang tengah menahan tubuhnya di atasku, kemudian menyeringai. “It proved,” ucapnya, sembari mengulum bibir, membersihkan sisa-sisa saliva yang membasahi bibirnya.

Aku tak mau tahu lagi dengan debaran jantung sialan yang tak bisa kuterka lagi seperti apa wujudnya kini.

“Proved … what?!” Aku mencoba meninggikan suara di tengah keadaan tubuh yang sebenarnya sedang terangsang karena perbuatannya.

“You love me.”

“In your dream.” Aku mengumpat sinis, masih tersengal sekali-dua kali.

Deidara menaut mataku dalam-dalam, seakan ia bisa menelanjangiku hanya dengan satu tatapan. “Eyes can never lie, Sweetheart,” ia mengusap bibir bawahku lagi untuk yang ketiga kalinya. “I can see it, clearly, deep down in your eyes. You love me.”

Pada serentet kalimat itu, pada suara bak melodi yang mampu menyebabkan candu itu, aku bisa merasakan seluruh wajahku memanas, kemudian memerah dengan cepat.

Aku buang muka. “I do not love a criminal, especially you, Deidara.”

Deidara menyunggingkan satu senyum miring. “Yeah, yeah. Go on, keep saying it, not a problem. I know the truth.”

Aku manyun, cemberut tanpa bisa kuhentikan.

Kemudian, Deidara merunduk, mengecup singkat bibirku. “Honey, you are under arrest with the accusation of falling for a gorgeous criminal named Reitokaze Deidara.” Ia menyeringai.

“Fuck you, Deidara.”

“Love you too, Sweetie.”


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s