Fiction/Fiksi

#JanuaryProsody Event: Day 03 – please, comeback

Deidara❤

+815532064xxx

 

Calling …

 

 

Klik.

“Halo?”

Seulas senyum mengembang, di sini.

“Deidara!”

Seuntai tawa berderai, dari seberang sana.

“Astaga, segitu bahagianya?”

Senyum lebar mengembang lagi, di sini.

“Tentu saja, Deidara!”

“Nah, ada apa menelepon?”

Ada tawa berderai lagi, di sini.

“Memangnya, menelepon harus ada tujuan?”

“Hmm, bagaimana kalau aku bilang harus?”

Gerutuan kecil, di sini.

“Mana aku peduli, Deidara! HAHAHA!”

(Sebab aku, hanya ingin mendengar suaramu, itu saja).

Tawa singkat, di seberang sana.

“Heh. Ayo, biar kutebak tujuanmu meneleponku … tengah malam begini.”

Tantangan pongah, di sini.

“Silakan! Tebak saja!”

Seringai sinis, di sana.

“Apa lagi selain bahwa karena kau merindukanku, hm?”

“HAHAHAHAHAHAHAHA— tidak, ya.”

“Tidak salah lagi, maksudmu?”

Bibir kecil mengerucut, di sini.

“Bodo, Deidara!”

(Iya, aku, memang sangat merindukanmu).

Senyum bahagia, di sini.

“Bagaimana harimu di dunia sebelah sana?”

Senyum tak simetris, di sana.

“Tak ada yang spesial. Masih musim dingin.”

“Aaah, kapan kau pulaaang?”

Kekehan kecil, di sana.

“Bulan depan, aku pulang.”

Sungut-sungut, di sini.

“Lamaaa!”

Derai tawa panjang, dari seberang sana.

“Sudahlah. Pandangi saja langit biru bila kau sangat merindukanku.”

Dengusan kesal, di sini.

“Hei, langit biru terlalu indah untuk disamakan denganmu, ya, Deidara.”

(Tidak juga, bahkan langit biru di matamu, jauh lebih indah daripada langit biru milik sang semesta).

(Apalagi, kau selalu, menjadi langitku).

Kekehan penuh ejek, dari seberang sana lagi.

“Denial sekali, hm.”

“Bodo.”

Hening menerpa, beberapa detik, di sini dan di sana.

“Deidara.”

“Hmm?”

“Sedang apa?”

Hening lagi, sejenak, di sana.

“Sedang …”

Ujar digantung, dari sana.

“Sedang?”

“Berbicara denganmu, Sayang.”

Tawa keras, juga puas, mengudara di seberang sana.

“…”

“KESEL BANGET AKU, YA!”

Bentakan emosi, di sini, kemudian ikut disusul oleh tawa.

“Serius, Deidara, kau sedang apa?”

Helaan napas, di sana.

“Aku sedang menye—”

BRAAKK!

Bunyi ngeri yang memekakkan, di sana.

“… Deidara?”

Panggilan lirih penuh rasa takut, di sini.

Keriuhan besar, di sana.

“Hei! Bagaimana ini?!”

“Darahnya banyak sekali!”

Klakson demi klakson saling bersahut-sahutan dengan nyaring, di sana.

“Ambulans! Telepon ambulans! Segera!”

Bising-bising mesin kendaraan juga saling melesat, di sana.

“Astaga, cepat! Ambulans! Dia masih bernapas— Tidak! Dia sudah tidak sadarkan diri!”

“Dan polisi! Telepon polisi! Mobilnya hancur!”

Aliran napas terhenti, detak jantung terhenti, tubuh gemetar terasa mati, di sini.

“Deidara! Itu apa?! Deidara! Jawab aku! Deid—”

KRSSK KRRSSKK—

Tut.

Sambungan terputus.

“…”

“DEIDARAAAAA!!!”

Satu raungan, membahana pada jagat raya, penuh luka dan pilu, runtuh hancur dan porak-poranda, dengan derai-derai air mata tanpa jeda menganaksungai,

di sini.

(Tidak, tidak, Deidara).

(Jangan pergi).

(Kumohon).

(Tidak secepat ini).

(Tidak, Deidara— Maaf— Maafkan aku).

(Maafkan aku— Aku tak akan merindukanmu lagi, agar kau tetap selamat).

(Maafkan aku— aku tak tahu kau sedang menyetir).

(Maafkan aku— aku akan mematikan telepon, jika aku tahu).

(Maafkan aku, Deidara— Deidara).

(Akan kulakukan apa saja— apa saja).

(Asalkan kau kembali).

(Tolong pulang— pulang, Deidara).

(Aku … hancur).


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s