Fiction/Fiksi

#JanuaryProsody Event: Day 07 – you are my favorite object

Crek.

Crek.

Crek.

Crek—

“Oi.”

“Y-Ya?!”

“Mau sampai kapan kau memotretku, hm?”

Kau bertanya dengan alis terangkat.

“A-aku tidak memotretmu!”

Aku menjawab dengan terbata satu kali.

“Oh ya? Sini, biar kulihat kameramu.”

Kau mengujar, sembari melangkah mendekatiku.

“Nggak boleh! Ini privasi, ya!”

Aku menghardik dengan refleks, menyembunyikan kamera di balik badan.

“Aku semakin yakin bahwa kau memang memotretku.”

Itu katamu, dengan tatap lekat favorit, sementara aku, bersikeras untuk tetap tidak menyerahkan kamera ini padamu.

Aku, menjulurkan lidah, menjauh lagi darimu.

Tidak, tidak akan, tidak pernah.

Sebab aku, tak mau, bila kau mengetahui bahwa potret dirimu adalah isi kamera ini.

*

“Sepertinya, yang kaulakukan adalah terus-terusan memotretku.”

“Tidak, ya. Enak saja. Masih banyak objek lain yang jauh lebih indah untuk kuabadikan.”

(Tetapi kau, adalah objek terindah yang berhasil aku temukan untuk selalu ingin aku rekam abadi dengan kamera ini).

*

“Hei, kurasa, kau sudah bisa berhenti untuk terus-terusan memotretku.”

“Sudah kubilang kalau aku sama sekali tidak memotretmu. Dari mana kau bisa mendapatkan rasa percaya diri yang setinggi itu, hah?”

“Bunyi tombol shutter itu, Sayang, matikan saja, agar aku tak tahu siapa yang kaupotret setiap saat.”

(Ah, kau menyebalkan. Sejauh yang kutahu, bunyi tombol shutter ini tak bisa dihilangkan).

(Sama seperti perasaanku padamu, tak bisa dihilangkan juga).

*

“Hasil potret kameramu bagus sekali. Tidak salah jika aku minta tolong denganmu.”

“Oh, tentu saja, ‘kan? Aku ini profesional, tahu.”

“Kau memang sahabat terbaikku. Minggu depan, tolong, ya.”

(Iya, aku ini memang gadis yang profesional, dalam memotret segala objek; apalagi dirimu).

(Tetapi aku, tidak profesional, dalam mengatasi perasaan ini, padamu).

*

Crek.

Crek.

Crek.

Crek.

Crek—

“Oi.”

“Y-ya?!”

“Sudah cukup. Kurasa kau memotret banyak sekali daripada yang seharusnya.”

“Yang namanya fotografer itu, harus memotret ratusan kali untuk mendapatkan hasil-hasil yang bagus, tahu.”

“Baiklah, baiklah.”

“Sudah kubilang, aku ini profesional. Jika sudah selesai dicetak, akan kukirimkan album-albumnya ke rumahmu.”

“Heh. Kau memang benar-benar sahabat terbaikku.”

Satu ulas senyum favorit kauberikan padaku, sebelum melangkah kembali ke tempatmu.

Ke tempatmu, dan wanita anggun yang telah kautemukan untuk menjadi pasangan sehidup-sematimu.

Di hari bahagiamu ini.

Aku memotret lagi, sembari berharap agar kamera ini tak rusak.

Tak rusak dengan air mataku.

Hehe.

(Maaf, maaf, Deidara. Aku memotret jauh lebih banyak dari yang seharusnya).

(Sebab hari ini, adalah hari terakhir untukku bisa mengabadikan potretmu dalam kameraku).

(Sebab hari ini, adalah hari terakhir aku, sebagai sahabatmu, untuk bisa bersamamu).

(Juga hari terakhirku, untuk bisa jatuh cinta, padamu).

(Tapi tapi— jika aku ingin terus menyimpan rasa ini, boleh, ‘kan?)

(Karena aku takut, Deidara).

(Aku takut).

(Aku tak sanggup untuk berhenti … mencintaimu).


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[aku menemukanmu, tetapi kau, tidak berbalik untuk menemukanku; kau menemukan yang lain]

[i lost you]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s