Fiction/Fiksi

#FebWithFlowers Event: Day 03 – voice mail

Senin, 01 Januari 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Selamat tahun baru, ya. Kembang api malam ini banyak sekali, lebih banyak dari biasanya. Tentu kaulihat juga, ‘kan? Mustahil sekali seorang Deidara melewatkan pertunjukan kembang api. Dasar kau saja tidak mengangkat teleponku, padahal aku menghubungimu puluhan kali. Aku curiga ponselmu kaucampakkan entah di mana, seperti biasa.”

“Ah, kau menyebalkan. Sudahlah, aku mau tidur. Kau juga, tidur. Jangan keasyikan dengan kembang api.”

Klik.

*

Sabtu, 27 Januari 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Astaga, aku membencimu, Deidara, suaramu di di voice mail ini menyebalkan sekali.”

“Ada pameran seni untuk besok dan lusa. Tiket masuknya sudah kubeli lebih dulu. Kau harus berterima kasih padaku, ya, HAHAHA!”

“Kabari aku lagi nanti.”

Klik.

*

Rabu, 14 Februari 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Hari ini dingin sekali. Kau di mana, sih? Salju hari ini lebat sekali. Kenapa selalu voice mail-mu yang menjawab tiap kali aku membutuhkanmu, hah? Kau memang menyebalkan.”

“Cepat pulang, ya. Nanti makanan favoritmu ini keburu dingin.”

“Oh, satu lagi, aku sebenarnya tak berminat memberimu cokelat. Tapi, karena sudah telanjur kubuat, kau harus makan, ya, HAHA!”

Klik.

*

Rabu, 14 Maret 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Cih! Kenapa kau selalu hilang di hari penting begini, sih?! Ini White Day, tahu! Bukankah seharusnya kau memberi balasan atas cokelatku bulan lalu?”

“Aku menunggu, lho, balasanmu atas cokelatku. Enak saja tidak ada balasannya.”

“Ah, Deidara payah. Kau menyebalkan, sih, tapi …”

“Tapi aku sayang. Hehe.”

Klik.

*

Minggu, 01 April 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Deidara, aku ingin bilang sesuatu.”

“Kautahu? Aku tak suka senimu, aku benci. Seni adalah ledakan? Ah, jangan mengada-ada. Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal, dong. Konyol, tahu. Ledakan itu bukan seni, pffft.”

“…”

“Oke.”

“April Mop! HAHAHA!”

“Tentu saja kautahu aku tak serius, ‘kan? Aku bahkan sangat menyukai senimu. Aku juga sangat menyayangimu. Walau aku tak mau melihat seringai sombongmu setelah kaudengar ini, ya.”

“Deidara no baka.”

Klik.

*

Selasa, 01 Mei 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Golden week! Dan musim semi! Aku tidak mau tahu, Deidara, kita harus liburan!”

“Aku mau lihat bunga sakura. Tahun-tahun kemarin, kita tidak sempat melihatnya, ‘kan? Tahun ini, harus, ya!”

Klik.

*

Kamis, 03 Mei 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“Astaga, Deidara, kublokir saja nomormu, ya. Sudah kubilang, suaramu di voice mail ini menyebalkan sekali, tahu!”

“Oke, jadi, pertanyaanku, kau di mana? Golden week tinggal dua hari lagi. Aku tidak mau kalau kita gagal melihat bunga sakura lagi tahun iniiii!”

“Cepat pulang, Deidara. Aku menunggu. Aku tidak akan tidur sebelum kau pulang.”

Klik.

*

Jum’at, 04 Mei 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Halo, ini Deidara. Aku sedang tidak ada di tempat. Tinggalkan saja pesanmu setelah nada berikut.”

Pip.

“… Bodoh. Bukan pesan suara yang ingin kudengar.”

“…”

“Tapi tak apa. Aku senang sekali hanya dengan mendengar suaramu.”

“Golden week tinggal besok, lho. Apa kau tak berniat untuk pulang? Kau tidak sayang padaku?”

“Padahal, aku hanya ingin melihat sakura denganmu. Kau jahat, Deidara. Memangnya permintaanku sesulit itu?”

“Aku tunggu sampai besok, ya.”

Klik.

*

Sabtu, 05 Mei 20XX.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Voice mail tujuan anda, penuh.”

Tut.

“…”

“… Penuh?”

Satu kernyitan bingung, tercetak tanpa aba.

“Tidak. Tidak mungkin penuh.”

Jemari kecil, memencet tombol-tombol pada ponsel lagi dengan cekatan.

Tut …

Tut …

Tut …

Klik.

“Voice mail tujuan anda, penuh.”

Tut.

Sambungan diputus.

“…”

Satu tatap hampa, terpancang lurus pada layar ponsel yang menggelap.

Tubuh gemetar, bibir bergetar, kemudian ponsel dilempar.

Dan sesimpul senyum terulas—

“… Deidara.”

—dengan bulir air mata yang mulai menderas.

“Selamat ulang … tahun, ya. Maaf … maafkan aku. Aku membuat kotak voice mail-mu penuh. Hehe.”

“Susah, sih. Kurasa aku … aku terlalu mencintaimu. Maka dari itu, maaf.”

“Maafkan aku.”

“Aku lupa, Deidara, bahwa kau … sudah pergi, sejak tiga tahun yang lalu.”

“Aku tak pernah ingat, kematianmu adalah tiga tahun yang lalu. Kurasa aku tak akan ingat.”

“Kalau saja kotak voice mail-mu … tidak penuh.”

“Aku tak tahu sudah ada berapa banyak … pesan suaraku di dalam mail box-mu.”

“Tiga tahun, ya, mana kutahu ternyata voice mail … bisa penuh.”

“Bagaimana caranya menghapus pesan suara yang sudah kukirim, sih?”

“Aku … jadi tak bisa lagi mendengar suaramu.”

Sebuah senyum getir terukir lagi di bibir—

“Aku … aku sangat merindukanmu … Deidara.”

—dengan isak tangis tak berjeda, dengan luka-luka yang terus menganga.

“Aku …”

(hancur).


disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. but this story is purely mine.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
[tolong, wahai semesta, antarkan semua pesan-pesan ini padanya]

[antarkan rindu ini padanya]

[dan antarkan juga aku … padanya]

[aku … tak mau lagi sendirian]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s